Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Hanya Kamu, Al-Qur'an Pun Suka Curhat

Ini adalah "curhatan" Al-Qur'an kepada kita sebagai pemiliknya. Curhatan yang semestinya membuat kita introspeksi, menelisik diri, sejauh mana kita memperlakukan kitab petunjuk hidup itu. Oke sahabat, langsung saja kita baca curhatan Al-Qur'an, kepada kita tentunya. 



Aku sering diajak pergi ke acara-acara pernikahan. Tubuhku dibungkus sangat rapi. Lalu aku dijadikan mahar oleh seorang laki-laki. Selesai pernikahan aku disimpan di lemari. 

Bertahun-tahun aku seorang diri, hingga suatu saat tubuhku koyak di sana-sini, oleh tikus yang sering menengokku setiap hari. Aku gak rela. Aku gak rela diperlakukan seperti ini.

Agar kau tahu, aku hadir untuk membimbing kehidupanmu. Mestinya aku mengisi seluruh kehidupanmu. Mestinya aku menjadi sumber inspirasi keseharianmu. Mestinya aku menjadi penuntun hidupmu. Seharusnya aku menjadi teman paling setiamu. Tapi nyatanya aku hanya jadi ban serepmu. 

Saat ada keluargamu yang sakit barulah kau baca beberapa ayat dariku. Saat ada keluargamu yang meninggal, barulah beberapa lembar kaubaca untuknya. Saat langkahmu sempoyongan,

Saat hidupmu dirundung duka, saat langit serasa akan runtuh menjatuhimu, saat gelombang kehidupan dan batu karang menerjang, saat dadamu terasa sesak oleh pedihnya kehidupan, saat tubuhmu letih dan lelah oleh beratnya beban permasalahan, saat wajah-wajah di sekelilingmu tak lagi bersahabat, saat teman-temanmu meninggalkanmu, saat saudara-saudaramu menjauhimu, barulah kau ingat aku. Barulah kau cari-cari aku.

Kalao boleh iri, sebetulnya ingin sekali aku seperti ipad atau HP-mu. Yang kemana-mana ia diajak serta. Kemanapun kau pergi ia diajak selalu. Kemanapun kau duduk, ia ada di genggamanmu. Berkali-kali dalam sehari ia kau ajak ngomong. Berpuluh-puluh kali tangan lembutmu membelai-belai wajahnya. Bahakan dalam menjelang tidurmupun ia kau ajak di pembaringanmu. Aku ingin sekali seperti dia.

Tapi aku lihat sendiri, kau begitu akrab dengan HP atau Ipadmu. Sementara aku, kau biarkan aku seorang diri. Aku jarang sekali kau buka. Tulisan-tulisan, huruf-huruf, kalimat-kalimatku jarang kau baca. Bahkan tubuhku jarang kau sentuh. Kau biarkan aku merana, dan hanya berteman setia dengan debu kotor yang menutupi seluruh wajahku.

Bukankah kau tahu, sebenarnya akulah yang akan mendatangkan kedamaian hidupmu saat aku kau baca?

Bukankah kau tahu, akulah yang mengundang malaikat penghuni langit turun membawa rahmat, saat kau bersama-sama temanmu berkerumun menyimak diriku? 

Bukankah kau tahu, aku pembimbing hidumu yang sesungguhnya? 

Bukankah kau tahu, akulah penuntun hidupmu yang paling setia?

Bukankah kau tahu, akulah penyelamat hidupmu dunia akhirat? Yang akan menerangimu di alam kubur yang gelap? Yang akan meneduhkanmu di tengah panasnya padang mahsyar? Yang menggandeng tangamu masuk ke surga? 

Lalu, mengapa sering kau campakkan aku dari kehidupanmu?

Ketahuilah bila kau terus begini, suatu saat penyesalan akan datang menghampirimu. Dan sesal kemudian tiada guna. Sudah banyak teman-temanmu yang di alam kubur sana, bilang kepadaku. 

Katanya: “ya laitani qoddamtu lihayati, mengapa hidupku dulu begitu, jauh darimu”. 

Ya laitani kuntu turaba, mohon aku jadi debu saja, gak kuat aku disiksa siang malam”. 

Kata Allah: “Tidak, kau adalah manusia. Kau harus tetap manusia dan gak bisa berubah jadi apapun. Kau harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatanmu”.

Mudah-mudahan curhatanku ini kau dengar baik-baik, kegelisahanku selama ini kau simak dengan seksama, kemurunganku kau senangkan dengan sepenuh hati, keresahanku kau perhatikan dengan segera. Sebelum segalanya terlambat. Sebelum ajal datang menjemput. Demikian curhatan al-Quran kepada kita.

Sastra Pembebasan