Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Usia Makin Menua, Tapi Tak Menjadi Istimewa

Tentang waktu. Sebuah kata yang dianggap biasa, namun berakibat luar biasa. Baik ketika dimanfaatkan dengan ketaatan, atau dipenuhi dengan kemaksiatan. Waktu adalah modal utama bagi manusia untuk beroleh keridoan Allah, atau justru menuai azab dari-Nya. Semua adalah pilihan.

Jika orang kafir mengatakan, bahwa "Waktu adalah uang", sangatlah dimaklumi, karena orientasi hidupnya adalah duniawi. Sementara bagi muslim, waktu adalah modal untuk meraih pahala dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Waktu cepat berlalu, tak menunggu. 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ. 

Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.”

Begitulah nyatanya kita rasakan sekarang, waktu sepertinya cepat berlalu. Pekan ke pekan, terasa sangat singkat.

Berjalannya waktu menambah hitungan usia kita, yang di waktu bersamaan, mendekatkan kita ke akhir kehidupan. Pertanyaannya, apakah semakin tua usia, kita semakin istimewa dalam amal dan kepribadian?

Sahabat, inilah sebuah renungan bagi diri (saya terutama), tentang usia yang makin menua, tentang apa yang harus kita persembahkan dalam hidup ini, tentang pilihan-pilihan, menua makin istimewa, atau old but not gold?

2

Menua Tak Makin Istimewa, Lifeless dan Forgotten


Satu saat nanti, akan tiba giliran barang-barangku yang diunggah, bukan sebagai harapan tapi sebuah kenangan. Sesuatu yang pernah ada, dijadikan pelajaran atau sekedar cerita

Berapa lama tangan ini mampu mengambil yang bukan haknya? Berapa lama lisan ini bisa menyakiti perasaan orang lain? Berapa lama lagi sampai akal melupakan dirinya sendiri?

Sampai kapan lalu akhirnya maksiat tidak lagi akan terasa nikmat? Sampai kapan sebelum syahwat tak lagi menawan? Sampai kapan sebelum semua warna hidup adalah ujian?

Waktu tak mengenal iba, melibas siapapun tanpa pilih. Berlalu begitu cepat, baru dirasa saat sudah lama lewat. Meninggalkan yang lebih dulu, memanjakan yang baru datang

Bagi mereka yang tak bijak, kenangan adalah siksaan, pengingat akan segala kebodohan, makin banyak berharap makin besar penyesalan, tertinggal dan dilupakan

Bukankah kita semua begitu? Baru ingin tahajud setelah tak bisa berdiri? Baru terpikir sedekah setelah tak punya? Baru ingin berdakwah setelah lemah? Panjang angan

Tapi saat kita punya semuanya, semua kebaikan bisa kita lakukan, kita juga merasa kita punya banyak waktu. Nanti bisa, nanti bakal saya lakukan, sampai nanti itu hanya tinggal nanti

Hari ini akan tinggal kisah, kita semua akan segera menyejarah, itupun bila kita berbuat sesuatu yang layak diingat. Tapi sebagian besar dari kita bahkan takkan diingat. 

Makin menua, tapi tak jadi istimewa. Setidaknya itu aku, bukan kita.

Old but not gold, lifeless dan forgotten

🧡Jazakumullah khoiron💚
  • Ustadz-ustadzku yang menjadi wasilah ilmu
  • Sahabat Sekamar, yang bersedia menua bersama😄
  • Yang hasil karyanya dijadikan illustrasi
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, Penikmat Sastra, mentor kajian Islam remaja, selebihnya hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Usia Makin Menua, Tapi Tak Menjadi Istimewa"