Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngobrol Berhadap-hadapan Suami dan Istri, Salah Satu Ciri Aktivitas Penghuni Surga

Sahabat, tak jemu kita ngobrol tentang masalah keluarga, masalah kita. Tak lain adalah dalam rangka pembelajaran kita dalam menjalani ibadah terpanjang ini. Kita semua harus selalu belajar dan belajar, agar tercipta yang kita idamkan, baiti jannati.

Keluarga Abu Muzzammil


Kali ini kita bahas tentang NGOBROL. Sebuah aktivitas yang sering dan bahkan menjadi "hobi" kita. Yang istimewa, ini tentang ngobrol dengan pasangan, baik dengan suami atau dengan istri.

Baik, kita mulai dari sini.

Salah satu konsep dasar sebelum kita berumah tangga adalah memahami konsep rumah tangga surga atau baiti janati.

Bagaimana mewujudkannya? Maka kita harus tahu bagaimana aktivitas penghuni surga dalam al-qur'an.

Setelah seseorang masuk surga, mereka melakukan aktivitas yang menunjukkan betapa surga tempat yang menyenangkan.

Dengan mengetahui aktivitas penghuni surga, maka kita bisa wujudkan hal yang serupa atau semisal dalam rumah tangga kita.

Salah satu aktivitas penghuni surga ada dalam surat ash-shaffat ayat 50 'mereka suka duduk berhadap-hadapan dan saling ngobrol'

Hal ini juga ada dalam surat al-hijr ayat 47 'mereka merasa akrab dan duduk di atas dipan-dipan sambil ngobrol'

Maka ciri rumah tangga surga adalah adanya kesempatan duduk berhadap-hadapan dengan pasangan untuk ngobrol.

Hal inilah yang menimbulkan keakraban dan rasa saling memahami. Dan dendam atau amarah bertahun tahun tak disimpan dalam hati.

Itulah kenapa ciri penduduk surga di surat al-hijr ayat 47 adalah tak ada dendam.

Dalam konsep rumah tangga surga, tak ada dendam disebabkan kebiasaan untuk menyelesaikan masalah segera. Tak disimpan dalam diri terlalu lama.

Fenomena ibu yang memukul anaknya karena kesempatan untuk bicara dengan pasangan dan orang terdekat yang tak tersalurkan.

Hasilnya, energi marah disimpan dan diekspresikan secara tidak sadar dalam bahasa tubuh yang membuat anak tak nyaman bersama dengannya.

Lebih bahaya lagi, ketika marah ini dipendam lama, akibatnya ibarat ombak yang menggulung karena tak lama disalurkan.

Itulah kenapa suami yang baik adalah yang memberi kesempatan istrinya untuk ngobrol lama setiap malam.

Sebab, kebutuhan wanita untuk bicara amatlah tinggi. Bahkan disebutkan perempuan yang sehat jiwanya minimal mengeluarkan 20.000 kata per hari. Wow😀

Jika tak terpenuhi, maka tertumpahkan kepada anak dengan sikap yang tak nyaman.

Jadi, bangun rumah tangga surga dengan memberi kesempatan pasangan setiap malam tuk bicara. Sebagaimana kebiasaan rasul kepada Aisyah r.a (HR. Bukhari)

Dan bagi suami,  untuk menandai emosi istri yang menyimpan marah itu mudah. Lihat bahasa tubuhnya (pengalaman🤭)

Jika tidur sudah berbalas punggung, mata tak berani menatap mesra pasangan, tanda ada HATI YANG TERLUKA.

So, suami pandanglah mata istrimu dan temukan adakah luka dalam jiwanya?

Obatnya adalah bicara dan mendengarkan....

Jika Suami Cuek 

Bagaimana jika para istri memiliki suami yang cuek? Tak mau diajak bicara? Maka, carilah media penyaluran emosi yang tepat dan benar.

Curhatlah kepada orang yang tepat. Selain tentunya yang utama kepada Allah SWT.

Jika tak biasa bicara, maka menulislah. Sebab menurut Imam Nawawi menulis itu mampu menetralisir perasaan sekaligus emosi negatif yang dipendam lama.

Kebiasaan menulis diary atau blog dan sejenisnya bagian dari teknik penyaluran emosi yang tepat. Tidak dipendam lama.

Maka, sungguh amat sengsara bagi wanita yang punya suami cuek namun tak punya kemampuan menulis. Penderitaan jiwa makin menggelora.

Itulah kenapa pendidikan dasar bagi anak wanita adalah menulis. Untuk apa? Untuk selamatkan jiwanya di saat tak ada orang lain lagi yang dipercaya.

Kesimpulannya. Jika stress menjalani rumah tangga, maka menulislah. Ini bagian dari solusi sementara. 

Akan lebih indah, jika di tengah kesibukan selalu ada waktu untuk bicara dengan pasangan layaknya penduduk surga. Mari memulainya💚

Silahkan coba. Maaf jika kurang berkenan. 

Ini mah pengingat bagi diri🙏

========

Jazakumullah:

1. Kang Bendri
2. Abu Muzammil