Kisah Lawas Sang Pengagum Dalam Diam

Kisah Lawas Sang Pengagum Dalam Diam. Ya sebuah cerita sederhana, yang bukan saja pernah dialami seseorang, namun mungkin juga dialami banyak orang. Ini mungkin cerita tak penting, yang jikapun dibaca, akan terucap sebuah kata, "lebay" hehe

Tapi memang rasa perlu diasah, dengan cerita dengan kisah. Agar tetap peka bisa merasa, apapun fenomena, dan mengambil pelajaran dari segala kejadian. Jika tulisan ini dikatakan "sastra", maka dengan sastra ini, rasa bisa dijaga kepekaannya. Pusingkah dengan bahasa ini?

Baik sahabatku, inilah sebuah "puisi" (jika layak dikatakan puisi), ditulis seseorang. Cocok buat anak muda, bagus juga untuk yang sudah agak menua, hitung-hitung kenanganlah. Ini memang kisah yang ada kesesuaian sekian puluh tahun ke belakang. Selamat membaca (jika mau hehe)

Sang Pengagum Dalam Diam



Aku penghuni sudut kelas, yang sewajarnya diabaikan, berteman serangga yang lalu lalang dalam remang, jauh dari penerangan dan suara, tapi deket dengan ketenangan dan rasa aman

Jauh dari pintu kelas, tapi aku mendapat kekhususan semilir angin dari jendela. Sengaja aku memilih baris paling belakang. Agar tak ada yang tahu ketika aku memperhatikanmu

Manusia kira cinta itu berbanding lurus dengan jarak, berkaitan dengan banyaknya bicara. Itu benar, meski itu bukan aku. Sedang aku, jenis lelaki yang berbeda, sedikit unik, banyak aneh

Aku menikmati kebersamaan dalam pikiran, berdampingan dalam kesendirian. Sebab tak sanggup mempertaruhkan rasaku yang rentan, tak berani berharap sebab takut kecewa

Apakah memang cinta selalu meninggalkan para pengecut untuk bersama mereka yang pandai merangkai kata? Akankah mereka yang fakir rasa juga jiwa merasakan cinta yang sama

Dunia memang begitu. Para penghuni sudut kelas, para pengagum dalam diam, selalu takkan pernah bisa mendapatkan kesempatan yang mereka impikan. Yang mereka janjikan dalam hati selalu

Bahwa satu saat yang tepat, adalah mereka di sudut kelas itu, yang merelakan diri untuk berkorban apapun. Hanya untuk melihat rangkai senyum dan mata yang tertawa bersamanya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel