Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bersama Memberi Makna, Puisi Terpendek di Dunia, "Me. We"

Bagi pembuat dan penikmat karya sastra, salah satunya puisi, setiap kata mengandung makna. Sependek apapun kata dan kalimat, akan memberi arti tersendiri. Karena puisi adalah kumpulan pilihan diksi.

Termasuk puisi karya Muhammad Ali, seorang petinju legendaris, hanya terdiri dari dua kata saja. Dua kata, bisa ditafsirkan ke dalam penafsiran yang berbeda. Puisi ini termasuk favorit saya juga.


Puisi Terpendek di Dunia itu Berjudul "Me. we"


Puisi terpendek yang pernah ada "Me. We" karya seorang petinju legendaris dunia berkulit hitam dan juga seorang mualaf Muhammad Ali. Bergelut di dunia tinju yang keras tapi memiliki hati yang lembut dan tulus.

Beliau mengucapkan puisi tersebut di depan para graduasi Harvard University pada tahun 1975.

Sebuah puisi tentang persahabatan yang yang jauh dari tatanan sebuah puisi, jika ditilik dari sisi kelumrahan.

Jika menilik latar belakang beliau sebagai seorang warga minoritas di Amerika apalagi menjadi seorang Mualaf pada saat itu tentu beliau melihat dan merasakan banyak ketimpangan dan ketidakadilan yang dialami warga minoritas. 

Saya dan Kami Pun Menafsirkan Puisi "Me. We"

Di grup komunitas pecinta puisi, saya posting tentang puisi "Me. We", dengan teks sebagai berikut:

Me. We

Terkadang Aku menjadi kami
Terkadang Aku menjadi kita
Maka hilang segala keakuanku

Terkadang kami menjadi aku
Terkadang kita menjadi aku
Ketika kita sakit, serasa aku sendiri yang sakit

Beberapa sahabat pun, saya minta untuk "menafsirkan" puisi tersebut. Masya Allah banyak sudut pandang yang berbeda untuk memaknai dua kata yang sama. Inilah salah satu bukti,  bahwa kita kaya dengan literasi👍

Yuk kita selami maknanya bersama-sama.

Bu Loniawati 
(Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Mande)


Puisi terpendek "Me. We" yang beliau ucapkan memilki makna yang luas dan mendalam tanpa seorangpun tahu apa arti dan maksud sebenarnya.

Hanya kalau hendak memaknai arti dari "Me. We". "Aku adalah Kita". Maka menurut pendapat pribadi saya adalah bahwa seorang individu tidak bisa lepas dari individu-individu lainnya. 

Apapun latar belakangnya apapun ras dan agamanya dengan mengedepankan rasa kemanusiaan wajib semua orang mendapatkan hak dan kewajiban yang setara, wajib mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam berkehidupan sosial tentu saja dengan tetap menghormati aqidah masing-masing dan norma yang berlaku. Wallahu 'Alam Bishawab.


Bu Nina Gartina
(Guru PAI SMPN 1 Mande)


Saya. Kita

Bersama dalam belajar

Benar salah adalah fitrah, supaya kita terus belajar

Belajar membangun hati yang senantiasa positif, karena-Mu

Astagfirullohal'adziim

Maaf atas segala khilaf, mohon ingatkan di kala lupa

Allah Maha Pengarah, hanya pada Engkau, saya, kita, berserah


Yuliana Gultom
(Guru IPA SMPN 1 Mande)

Saya adalah Kita.

Ketika SAYA berpikir, akan melakukan sesuatu, atau mengambil keputusan, maka bukan hanya SAYA saja yang harus dipikirkan, bukan hanya SAYA yang mendapatkan manfaat, atau mendapatkan keuntungan. Tapi juga KITA.

KITA adalah orang-orang di sekitar SAYA, mulai dari orangtua, keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat SAYA.


Bu Santi Kurniawati
(Guru IPS SMPN 1 Mande)


"... ku. Kita...." Kompleksitas dalam kesederhanaan. Hanya 2 kata, tapi memiliki ribuan tafsir. 

Secara pribadi saya menafsirkan "Me.We." adalah doa sebelum dan setelah bangun tidur. Ketika berangkat tidur, berdoa untuk diri sendiri, memohon dihidupkan dan dimatikan atas namaMu. Sedangkan ketika bangun tidur, mengucap syukur bahwa "kami" telah Engkau hidupkan setelah mati.....


Bu Siti MK Nurjanah
(Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Mande)


Me. We

"Me" dalam Tata Bahasa Inggris berarti saya( object). Dan bermakna tunggal atau satu. Sedangkan " We" berarti kita ( subject ). Dan bermakna lebih dari satu orang namun " we" ini walaupun bermakna banyak berbeda dengan " they " yang bermakna banyak tapi tidak melibatkan saya. 

Intinya they ini orang lain. Kalau kata " me" dan " we" ini dikaitkan dengan kehidupan berumah tangga maknanya: 

Dalam menjalani kehidupan berumah tangga kita tidak bisa hanya memiliki peran " me" saja atau fokus dalam kepentingan diri sendiri saja. Namun dalam berumah tangga kita tergantung pada kata " we" yaitu ada kata " kita " yang terdiri dari suami, istri dan bahkan anak-anak kita. 

Berarti dalam bersikap, berkata dibatasi oleh anggota keluarga sampai mengambil keputusanpun dipertimbangkan sedemikian rupa agar keputusan tersebut memuaskan semua fihak. 

Sama halnya di sebuah lembaga kata" me" tidak bisa ditonjolkan begitu saja. Karena setiap orang punya kelebihan, kekurangan bahkan keistimewaan masing-masing.  

Akan lebih baik dalam sebuah lembaga kata " we" lah yang harus dikedepankan. 
Karena dengan " kita " sebuah pekerjaan berat akan terasa ringan. 
Dengan "  kita" terasa kebersamaan.
Dengan " kita" akan tumbuh sikap saling menghargai. 
Dan InsyaAlloh dengan " kita"  akan tercapai sebuah kesuksesan.  🙏🙏

Khotimah


Sepertinya saya tak perlu dan tak berhak mengomentari semua tafsiran tentang puisi "Me. We" yang ditulis beberapa sahabat. Semua memperkaya rasa, memberi arti, dan menguatkan makna.

Ketika peran "Me" dan "We" dijalankan secara proporsional dan di waktu yang tepat, akan terjadi keharmonisan hubungan antar sesama insan. Tak ada yang meninggikan diri, dengan menginjak sahabat, tak ada yang berburu untung, sambil merugikan sesama. 

Semua akan berorientasi, sukses bersama ke surga bersama. Insya Allah.

Wallahu a'lam.

Terima kasih kepada :
1. Bu Loniawati
2. Bu Nina Gartina
3. Bu Yuliana Gultom
4. Bu Santi Kurniawati
5. Bu Siti MK Nurjanah
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, Penikmat Sastra, mentor kajian Islam remaja, selebihnya hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Bersama Memberi Makna, Puisi Terpendek di Dunia, "Me. We""