Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balada Seorang Ibu, Senyuman Terindah Walau Lelah

Kodrat seorang wanita, adalah sebagai ummun (ibu) dan robbatul bayt (pengurus rumah). Sebuah peran agung yang hanya dibebankan Allah kepada yang memiliki kemuliaan.

Inilah karir sesungguhnya dari seorang wanita, yang dengan sentuhannya, generasi Islam akan terlahir. Dengan pengasuhan dan pendidikannya, anak-anak tumbuh menjadi pelanjut esatafeta kejayaan Islam.

Sahabat, rasanya aku tak jemu membahas tentang sosok mulia dan hebat ini. Tentang peran besarnya, tentang visi misi hidupnya, dan tentang kesehariannya.

Inilah sebuah fragmen dari cerita utuh aktivitas seorang ibu, ditulis oleh seorang suami sekaligus pengemban dakwah

Bagiku, sangat malu jika tak mengaku, bahwa begitu berat peran seorang ibu.

Illustrasi: Ummu Alila

Balada Seorang Ibu, Senyuman Terindah Walau Lelah


Pagi-pagi, Ibu melayani semua anggota keluarganya di meja makan, tapi jangan kira baru pagi itu dia sudah mengumpul pahala, jauh-jauh sebelum ayam berkokok pun sudah

Sujud-sujudnya mendahului muadzin subuh, lafadz-lafadz doa lirih terlantun saat semua masih terbaring istirahat, Ibu mengangkat tangan agar Allah turunkan berkah

Lalu menyiapkan bekal yang terbaik agar anak-anak semangat di sekolah, tak lepas dari kasih sayangnya walau sekedar membuka bekal saat istirahat sekolah tiba

Menyiapkan semua bagi suami untuk pergi menjemput rezeki, yang terpenting menenangkan suaminya, agar membawa pulang hanya yang dihalalkan Allah bagi keluarganya

Jangan kira saat semua pergi itu waktu istirahat Ibu, sebab rumah masih meninggalkan banyak amanah untuk diurusnya, ditatanya, disiapkannya jadi sepotong surga dunia

Senyuman terindah walau lelah, itu yang menanti anak-anaknya pulang belajar, dan dirumah justru pelajaran yang sebenar, tentang karakter seorang Muslim, akhlak Islami

Ibu adalah madrasah pertama dan utama, takkan terganti, maka dialah yang menentukan arah anaknya, setelah ayahnya anak-anak mendidik aqidah dan menuntunnya

Bisa jadi bukan hanya yang baik yang dibalas sang anak, kadang perilaku bandel, seringkali hardikan dan teriakan, namun Ibu tetap sabar, karena dia sayang, karena Allah

Pulanglah suaminya membawa selaksa masalah di luar, dia tetap menyambutnya dan memberikan ketenangan lagi baginya, sebab itulah dia, ketentraman bagi suaminya

Mata Ibu baru terpejam setelah semua terpejam, hanya untuk tenggat waktu yang amat singkat, untuk besok kembali lagi berjuang tanpa henti, entah sampai kapan

Epilog sederhana untukmu💜❤


Ibunya anak-anak, entah bagaimana aku tanpamu, hal-hal yang tak mungkin kulakukan tanpamu, dan pengorbanan yang tak bisa aku buat, demi generasi masa depan pembela Islam.

Apa masih ada alasan untuk tak menghargai pengorbanannya?

Wallahu a'lam.

Catatan:
Artikel ini sesungguhnya dalam rangka mendidik diri sendiri, belajar memahami walau terkadang masih tak mampu mengendali emosi. Jika ada kemanfaatan buat yang membaca, alhamdulillah. Yuk kita berubah bersama💚


Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, Penikmat Sastra, mentor kajian Islam remaja, selebihnya hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Balada Seorang Ibu, Senyuman Terindah Walau Lelah"