Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yuliana Gultom: Tips Menghindarkan Anak dari Pornografi dan Virus Melambai

Ada dua hal dari sekian hal yang menghantui generasi muda dewasa ini, pornografi dan virus melambai. Ini memang menjadi PR besar bagi orang tua dalam menyikapinya. Apalagi semua ini ditunjang dengan kemudahan memiliki gadget di kalangan anak-anak, dan willingness penguasa yang kurang berpihak kepada syariat, sehingga terkesan adanya pembiaran dua virus ini berkembang di kalangan generasi muda.

Untuk membahas tentang bahaya pornografi dan virus melambai (catatan: virus melambai, istilah lain untuk eljibiti), ada catatan menarik dari Bu Yuliana Gultom. Berikut penuturannya:

Bu Yuli dan Anak-anak tercinta


Masalah Pornografi

Memang banyak faktor bisa menjadikan seseorang melakukan kejahatan. Tapi PORNOGRAFI merupakan salah satu faktor terbesar. 

Langkah untuk mengatasi masalah pornografi, secara garis besar sebagai berikut:

Lindungi generasi kita dengan menjauhkannya dan mengajarkan tentang konsep agama sedini mungkin. Jangan sampai lengah sedikitpun.

Langkah awal, jauhi sumber pornografi yang mudah sekali didapatkan oleh anak pada saat ini, yaitu Gadget dan Internet. Kalaupun memang ingin diberikan kepada anak kita (catatan : yang sudah usia sekolah), pinjamkan hape kita dengan pengawasan dan aturan yang jelas.

Jangan beri gadget pribadi pada anak sebelum ia lebih memahami agama dan sudah mulai menjadi karakternya, lebih memahami aurat dan sudah menutup auratnya, lebih memahami hukumnya pacaran dalam Islam, lebih mencintai Allah dan Rasulnya, dan di usia yang sudah cukup, seperti yang disarankan para ahli pendidikan, yaitu 17 tahun.

Masalah Virus Melambai


Kita tak bisa memaksakan kehendak, karena memang ada perbedaan keyakinan juga. Tapi sebagai muslim/ muslimah, sudah jelas bahwa hubungan sesama jenis dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Lalu apa harus terus didiamkan? Bukankah jumlahnya makin lama makin bertambah?

Di jaman serba "canggih dan praktis" ini, tugas kita sebagai orangtua makin berat. Karena itu kedua orangtua harus berusaha melakukan perannya sesuai dengan kodratnya di keluarga. InsyaAllah anak akan menjadi pribadi yang sesuai dengan kodratnya pula. 

Selain itu, jangan ada "pembiaran" karakter-karakter lelaki "kemayu" dan perempuan "perkasa", baik di televisi, medsos, bahkan di lingkungan kita sendiri, insyaAllah akan kecil kemungkinan muncul generasi seperti ini.

Dan do'aku bagi teman-teman seperti ini, semoga Allah subhanahu wa ta'ala melimpahkan cinta dan kasihNya buat kalian, sehingga Allah menunjukkan jalan kebenaran yang hakiki buat kalian.

Demikian penuturan Bu Yuli, walau singkat namun semoga menjadi pengingat bagi kita semua tentang bahaya-bahaya yang mengancam anak-anak kita.

Benteng pertahanan pertama adalah keluarga. Dari sini semua bermula, tempat meletakan dasar-dasar keberagamaan bagi generasi.

Saya, Bu Yuli, dan sahabat semua merupakan sosok-sosok pembelajar, terutama pembelajar dalam ilmu kehidupan. Maka, mari kita kuatkan kembali tekad dan prinsip dalam menjalani kehidupan, prinsip sesuai yang Allah inginkan.

Insya Allah.