Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Merugi Diri Jika Iman Tak Meninggi, Merugi Diri Jika Syukur Tak Kau Ulur


Ada sebuah kalimat menarik dari seorang sahabat, "Merugi Diri Jika Iman Tak Meninggi, Merugi Diri Jika Syukur Tak Kau Ulur". Kalimat ini terungkap oleh beliau saat membandingkan kondisi musibah asap yang melanda saudara-saudara kita di Riau, beberapa waktu lalu. Sedangkan kita di sini menikmati beningnya air, bersihnya langit, dan alam yang asri.

Ada banyak hal yang terkadang luput kita syukuri. 

Matahari terbit dari timur memberi cahaya bagi kehidupan, kita anggap biasa.

Oksigen dihirup setiap hari, gratis, memberi kita nafas segar, kita anggap biasa.

Hujan turun dari langit, menjadikan tetumbuhan bisa tumbuh dengan maksimal, dan memberi segenap keuntungan bagi insan, kita anggap biasa.

Semilir angin yang meredakan gerah, menerbangkan wewangian bunga, yang sampai ke hidung kita, kita anggap biasa.

Atau kita lihat yang ada di diri.

Mata, yang bisa memandang keindahan alam, atau bahkan bisa memandangi keelokan wajah suami atau istri, seringnya kita anggap biasa.

Lidah, yang bisa mengecap kelezatan rasa, seringnya kita anggap biasa.

Dan banyak hal lainnya.

Bodohnya, semua itu sering kita anggap biasa, tak istimewa. Padahal Allah Azza Wa Jalla menyatakan:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS Ali Imran: 190)

Semua fenomena adalah sarana untuk difahami, oleh orang yang berakal. Yang pada akhirnya, iman bertambah tinggi, syukur pun menjadi berlipat-lipat.

Tapi, mengapa kita sering menganggap sesuatu itu biasa saja, tak menjadi ibrah pelajaran, tak menjadi peningkat pemahaman, tak menjadi pendorong ketakwaan?

Mengapa syukur jarang kita ungkapkan, mengapa syukur tak kita realisasikan dalam bentuk ketaatan, mengapa syukur belum bisa menjadi andalan kita sebagai kaum mukmin, di samping sabar?

Astaghfirulloh....

Ini nasehat sekaligus makian terhadap diriku, sahabat. Yang masih bebal dengan kebenaran, yang masih banyak enggan meniti ketaatan, yang masih menganggap usia masih lama, yang tidak bersegera berbekal untuk kehidupan nanti.

Padahal, tiap hari disuguhi berita kematian. Padahal kematian itu sendiri adalah nasihat terbaik bagi mu'min, bahwa kita pun sama akan melewatinya.

Dengan semua ini, Merugi Diri Jika Iman Tak Meninggi, Merugi Diri Jika Syukur Tak Ku Ulur.

❤Catatan menjelang tidur💚

Nuhun NG



Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, Penikmat Sastra, mentor kajian Islam remaja, selebihnya hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Merugi Diri Jika Iman Tak Meninggi, Merugi Diri Jika Syukur Tak Kau Ulur"