Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibu Belajar darimu, Nak!

Setiap pasangan dalam rumah tangga pasti mendamba hadirnya anak, buah cinta mereka. Ketika yang didamba, Allah berikan, selain kebahagiaan yang terpancar, juga sebuah amanah yang harus ditunaikan, yakni pendidikan bagi anak. Pendidikan Islam.

Dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak ini, ada saja hal yang membuat bunda tersenyum, sesekali mengernyitkan dahi atas pertanyaan dari ananda, atau juga harus memutar otak untuk memberikan jawaban yang bisa ananda fahami.

Bahkan, seringkali dengan ucapan, tingkah, dan apapun yang ananda lakukan, membuat bunda mendapatkan ilmu baru. Dan bunda berucap, "Ibu belajar darimu, Nak!" (walau tak terucap dengan lisan, karenan gengsiπŸ˜„).

Sahabat, artikel ringan kali ini menyoroti tentang celoteh, pertanyaan, tingkah, dan lain sebagainya, antara bunda dengan anaknya. Beberapa sahabat ukhtinews.com, menuliskannya untuk kita. Selamat membaca!

Ini cerita dari Bu Yuni. Entah masuk kategori yang diminta atau tidak,  tapi ingin berbagi tentang celoteh si bungsu 😁

Bu Yuni, Suami, dan 2 putri tercinta

Sejak umur 2 tahun saya mengenalkan permainan puzzle pada Fatma, kebetulan dia suka...sampai akhirnya jadi mainan favoritnya. Tidak ada maksud tertentu memperkenalkan mainan puzzle tapi ternyata memberikan dampak yang sangat hebat, hingga membentuk Fatma menjadi pribadi yang sistematis...semua harus sesuai pada tempatnya, seperti ketika dia main puzzle.

Di umur 4-5 tahun munculah celotehannya, khususnya ketika melihat ada orang yang membuang sampah sembarangan. Di angkot, di sekolah, di jalan, pada siapa pun dia pasti akan langsung berceloteh:

"Bpk/ibu/om/tante ko buang sampah sembarangan, sampah itu kan harus dibuang di tempat sampah!!!" 

😁😁😁

Satu celoteh lainnya yang paling sering muncul juga dari Fatma:

"Bpk/ibu/om/tante ko ga bilang terima kasih, kan udah dede bantuin..."

Itulah celoteh yang sering dia ungkapkan pada siapa pun ketika dia ikut andil dalam pekerjaan orang lain. 

Mamahnya paling sering dicerewetin, habis bantu masak nasi, cuci piring, ambil jemuran, lipet jemuran, dll selalu diakhiri dengan kalimat itu...kalo ga buru-buru diucapkan πŸ˜…

Rekan-rekan disekolah pernah menjadi sasarannya, seperti Bu Santi, Bu Novi, Bu Siti MK hehe 😁😁😁

Sedikit narsis memang, tapi satu frasa yang ketika diucapkan ternyata membuat anak merasa bangga dan sangat dihargai. Disitulah ibu belajar dari ananda tercinta...'TERIMA KASIH' hadiah murah meriah yang sangat melekat pada hati seseorang πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

Bu Nina dan Ghadiza

Cerita lainnya dari Bu Nina.


Gadiza: Bu, Dede tahu tidur itu malam dari mana?

Ibu: =÷×^¢$¥€ -(kaget dan bingung)

Teteh kenapa tanya begitu? 

Gadiza: Pengen tahu

Ibu: (Sambil HHC sendiri Ibu coba jawab, semoga anaku langsung ngerti dan jawabannya memang benar😊)

Gini, waktu bayi, dede serasa masih di perut Ibu (rahim), belum tahu waktu mana siang mana malam, makanya masih membiasakan keadaan diluar perut Ibu(adaptasi)

Rahim dan adaptasi bahasnya nanti ya Teh😁

Makin besar, bayipun makin menyesuaikan diri

Tambah, tidur itu salah satu sifat manusia yang Allah kasih seperti minum jika haus, makan jika lapar, nah manusia juga tidur jika ngantuk, umumnya manusia itu ngantuk waktu malam hari 

(ngantuk-tidur siang tidak umum;tidak umum itu tidak banyak manusia tidur siang hari)

Allah yang menciptakan kita mengatur salah satu sifat manusia semua butuh tidur malam hari, jadi dede juga tidur malam hari

Gadiza: Oh...disertai pertanyaan lain yang tidak akan dilanjutkan di sini (emak bingung -__+)

Ibu: Kita sambil cari tahu jawaban lain ya Teh, baca buku dsb, yang punya jawaban lebih dulu  cepet kasih tahu, oke

Gadiza: Oke

--------

Ini cerita lain lagi, dari Bu Yuli.


Malam-malam ke rumah sakit rasanya itu...tapi alhamdulillah razan ga dirawat. Lucunya habis diperiksa dokter, razan malah nanya : "Bu, di sini ada dokter apa aja?".

Ibu: "Ya macam-macam lah." 

Razan : "Kalo dokter sunat ada ga bu?" (Yang tadinya tegang, jadi ketawa) 

Ibu : "emang razan mau disunat skarang?". Razan : "Iya, kalo dokter yg tadi bisa sunat ga?". πŸ˜€ ( Meski razan lagi sakit perutnya tapi masih banyak ngomong dan senyum. Ibu  belajar dari razan)

-----------------

Sahabatku, tentunya kita serius dalam melakukan pengasuhan dan pendidikan bagi anak tercinta. Sebab selain amanah dari Allah Ta'ala, anak juga yang diharapkan menjadi pembawa kita ke surga-Nya, atas jerih payah orang tua dalam mendidik mereka.

Anak adalah cermin diri kita. Ketika orang tua membiasakan mengucapkan "terima kasih" atas sebuah bantuan sekecil apapun, anak pun akan melakukan apa mereka indera dari orang tuanya. Ketika orang tua selalu "ngomel" atas apapun walau hal sepele, maka hampir dipastikan anak akan menirunya. Ingat, anak adalah peniru ulung.

Dan orang tua pun seharusnya mengasah kepekaan, bahwa ada saja sisi positif dari anak, bahkan menjadi tambahan ilmu bagi kita. Intinya, orang tua gak "gengsi" mengakui sebuah pembelajaran dari ucapan atau tingkah sang anak.

Dan terakhir, anak akan mau berbicara, bertanya, mengadu kepada orang tuanya (walau terkadang di usia masih sangat dini, ada saja suatu ucapan/kalimat yang kurang bisa difahami sang bunda), jika orang tua bersikap terbuka dan membuka diri. Tidak memposisikan diri sebagai "tuan" yang harus senantiasa dituruti. Jika komunikasi ini dibiasakan dari kecil, anak tidak akan kehilangan figur "sahabat" dari orang tuanya.

Happy Family! Semoga kita sebagai orang tua, senantiasa diberi kekuatan oleh Allah untuk mendidik anak dengan pendidikan terbaik sesuai syariat.




Posting Komentar untuk "Ibu Belajar darimu, Nak!"