Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Alasan Suami Malas Ngobrol dengan Istri dan Solusinya

Ini sebagian suara hati kaum istri. Ada sebagian istri yang mengeluhkan, bahwa suaminya lebih senang ngobrol dengan orang lain dibanding istrinya. Lebih seru bercengkrama dengan teman-temannya dibanding dengan istrinya, lebih asyik di luar rumah dibanding ada di rumah, atau lebih asyik chating dengan orang lain dibanding dengan istrinya sendiri.

Lihat saja, mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Nongkrong di warung kopi. Ngobrol di rumah teman. Begadang. Atau asyik chattingan. Kalau chating dengan orang lain seru sekali, tapi sama istri sendiri garing dan jarang.

Ada yang mengalami seperti itu? Kalau menurut hasil penelusuran dan survey kecil-kecilan, serta perbincangan dengan sesama suami ditambah sedikit pengalaman😁, hal itu disebabkan hal-hal berikut.

6 Alasan Suami Malas Ngobrol dengan Istri

Berikut ini adalah suara hati suami untuk menjawab pertanyaan, mengapa suami lebih asyik ngobrol dengan orang lain dibanding dengan istrinya.

1. Interaksi dengan istri sudah berlangsung sekian lama, sehingga bagi suami, hampir-hampir tidak ada yang terlalu penting dibicarakan (hanya pengulangan saja). Sedangkan dengan orang lain kan ngobrolnya tidak tiap hari.

2. Topik pembicaraan dengan istri kurang luas, hanya seputar keluhan soal anak, tagihan-tagihan, kebutuhan istri atau uang belanja, yang bagi suami, itu terdengar membosankan. Berharap istri mampu mengatasinya sendiri. 

3. Suami butuh obrolan-obrolan ringan dan yang khas dengan dunia laki-laki, seperti soal pekerjaan, hobi atau olahraga, bahkan membincangkan hal-hal berbau wanita yang tidak mungkin dia lakukan di depan istrinya. (Pasti para istri sering kesal kan, kenapa bapak-bapak suka banget ngobrolin poligami 😁).

4. Suami memilih menghindari konflik, khawatir menyakiti hati istrinya. Pasalnya, respons apapun dari suami, biasanya istri ngeyel. Bukankah ada candaan, aturan pertama, istri  selalu benar dan aturan kedua, jika istri salah, kembali ke poin pertama. Akhirnya suami memilih diam atau tidak banyak bicara.

5. Suami malas menghadapi istri, karena setiap bicara, yang terdengar di telinga suami, istri itu cenderung menuntut, menyalahkan, menyudutkan dan bahkan merendahkan. Hal ini membuat ego suami terusik. Daripada bertengkar, mereka tidak ingin memulai obrolan. 

6. Hubungan suami-istri terlalu tegang dan serius, belum akrab dan lengket, sehingga masih ada jarak dalam komunikasi. Tidak akrab, lebih banyak jaim. Keakraban itu tampak jika pasutri sudah asyik membicarakan hal-hal ringan hingga serius, di luar urusan rumah tangga. Misal ngobrolin hobi, isu yang sedang trending, politik dll.

Umroh dot com


Solusi Agar Obrolan Suami-Istri kembali Hangat

Lantas bagaimana solusinya? Istri jangan baper, positif thinking saja. Mungkin benar, suami hanya tak ingin terpancing emosi jika berbincang dengan istri. Lagipula, suami juga butuh berbicara dengan orang lain di luar urusan rumah tangga.

Jika butuh suami untuk mendengar, katakan terus terang bahwa istri ingin bicara. Entah secara lisan atau chatting, mintalah waktu pada suami untuk bicara. 

Agar obrolan asyik, siapkan juga topik pembicaraan yang kekinian. Jangan melulu berisi keluhan soal anak dan tetek bengek rumah tangga. Jalinlah keakraban dengan obrolan yang berkualitas. 

Keakraban itu tampak jika pasutri sudah asyik membicarakan berbagai hal. Mulai topik ringan hingga serius, di luar urusan rumah tangga. Misal ngobrolin hobi, isu yang sedang trending, politik dll.

Berbincang dengan pasangan bisa menjadi forum mudzakarah, bertukar pikiran untuk menghasilkan satu kesamaan pikiran. Masing-masing harus saling menghargai pendapat dan menghindari berdebat. 

Bagi suami, sadarilah bahwa istri hanya butuh telinga untuk didengar. Ia hanya ingin mencurahkan isi kepala dan isi hatinya. Suami adalah sahabat terdekatnya, kepada siapa lagi ia curhat, kalau bukan kepada Anda. Jadi, tetap, sediakan waktu untuk berbincang dengan istri.

Rasulullah Swt. mengajarkan, setiap habis isya beliau bercengkerama dengan keluarganya. Beliau mengumpulkan istrinya, lalu duduk di dekat istri yang mendapat giliran malam itu (riwayat lain istrinya dipangku). Ia genggam tangannya, sementara istri-istri lain mencurahkan isi hatinya. Setelah itu, baru beliau berangkat ke peraduan.

Demikian sahabat, ketika suara hati suami didengar istri, dan begitu juga sebaliknya, suara hati istri didengar suami, lalu dicarikan solusi bersama, yang akhirnya komunikasi akan berjalan lancar. Bukankah terhambatnya komunikasi, salah satu pemicu pertentangan?

Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mau dan mampu menyelesaikan setiap permasalahan dalam keluarga, salam bingkai syari'at. Yang pada akhirnya, kita dan keluarga kita beroleh sakinah mawaddah di dunia, dan beroleh syurga di akhirat kelak. Aamiin.

Jazakillah:

1. Ummu Annisa, yang senantiasa sabar untuk menua bersama, taat bersama.

2. Bu Kholda, atas sharing ilmu dan pengalamannya untuk Bengkel Istri