30 Hari Bercerita, Uslub Dakwah Kaum Akhwat Edisi Annita Febrianti

Ada sebuah gerakan literasi dari kaum akhwat pengemban dakwah, yakni "30 Hari Bercerita", yang dikemas dalam hashtag #30HBC, #30HariBercerita. Sepertinya kegiatan bercerita/menulis ini sebagai wahana bagi kaum akhwat untuk mengasah uslub dakwah melalui tulisan, yang memang pilihan paling realistis di tengah kondisi pandemi ini.

Saya baca semua tulisan di bawah tagar #30HariBercerita ini, menyoroti aneka hal. Tema-tema sederhana, namun penuh makna.

Saya memandang perlu mengekspos tulisan-tulisan akhwat ini melalui blog ukhtinews.com, sebagai salah satu upaya memberi kemanfaatan bagi sesama. Kita mulai dari tulisan salah seorang akhwat, Annita Febrianti.

Waktu Berjalan

Setelah jeda yang kita buat untuk menyelesaikan segala persoalan yang begitu pelik, namun waktu itu terus berjalan.

Berjalan tanpa henti, meski ketika kita tak mampu untuk menggerakan kaki juga hati.

Sampai-sampai, disaat terburuk kita kehilangan sadar, kita terus menapaki tangga-tangga kehidupan

Tanpa henti kita semua terus berjalan menuju kematian.

Tanpa disadari, yang dilakukan hanya perbuatan yang sia-sia dan tak memiliki banyak kebermanfaatan.

Sampai di satu titik kita akan sadar.

Rupa-rupanya kebahagiaan dunia yang telah dijadikan tujuan utama dalam kehidupan.

Duhai, bahkan Allah mengatakan hidup di dunia ini hanyalah sebuah permainan, sejatinya ketika akan kembali pulang menuju keabadian.

Duhai, apa yang telah kita persiapkan ?

Semoga tiada kata terlambat untuk kembali bertaubat

Cermin

Cermin di kamar malam itu memantulkan sosok yang begitu risau, seperti tak memiliki arah untuk dituju, tak memiliki pegangan untuk bertahan, bak manusia yang tak memiliki masa depan.
Kusempatkan untuk berkata pada empunya bayangan,

"Duhai, kau terlalu risau dengan masalah yang kau hadapi sekarang. Ini suatu hal yang bisa dengan mudah kau selesaikan, bahkan kau pun mengetahui solusi dari apa yang sedang kau hadapi saat ini"
Sang empunya hanya diam tanpa memberikan balasan.

Di satu pagi, kembali terlihat sosok yang sama saat malam hari. Namun, raut wajahnya berubah menjadi berseri tak murung seperti malam hari.

Belum kusempatkan diri tuk bertanya, Sang Empunya langsung berbicara ...
"Duhai, rupa-rupanya pedih yang dirasa sebab diri terlalu berharap pada manusia. Pantas saja tak ada bahagia dalam dada, yang ada hanya kecewa.

Duhai, ternyata diri ini telah menggantungkan mimpi pada selain Illahi, dan memohon belas kasih dari makhluk agar bersedia menguatkan di kala pelik datang"

"Baguslah, akhirnya kau tersadar. Bahagia tak hadir pada mereka yang menggantungkan harap pada manusia, sebab pemberi bahagia hanya Allah semata"

Teman, kala masalah dan gelisah menyapa jangan pernah memohon pertolongan pada manusia. Tetap jadikan Dia yang utama untuk dijadikan tempat meminta dan berkeluh kesah.

Tetap tenang,
Sebab tak ada ujian yang dibuat untuk terus membuat mu lemah, tapi justru membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.

Kamu hanya perlu mengerti dan memahami hakikat ini semua.
Tenang ya,
Sabar terus,
Yakin yaa,
Everything will be okay kak

#30haribercerita

Hidup

Hidup ini memang tentang sebuah perjalanan yang membutuhkan banyak perjuangan.
Bahkan kita sama-sama tahu, kerikil kecil hingga benteng besar bisa saja menghadang kita di persimpangan jalan.

Ya, hidup tetaplah hidup.

Suka tidak suka kita dipaksa untuk menerima.
Menerima semua yang telah ditetapkan Dzat Yang Maha Mengetahui Segalanya.
Satu hal yang perlu diingat.

Sekeras apapun keadaannya nanti, jika kamu masih sanggup untuk berdiri,
Jangan pernah menggantungkan harap pada selain Illahi

#30haribercerita

Takdir

Pada akhirnya, takdir Tuhan yang menentukan segalanya.
Ini memang sebuah kisah pilu yang semestinya harus sudah berlalu. Tapi kali ini, aku ingin berbagi untuk siapa saja yang mungkin sama-sama mengalami fase ini.

Menjadi seorang pejuang PTN barangkali bukanlah hal yang aneh lagi bagi sesiapa saja yang sudah lulus dari sekolah menengah. Dulu, setelah usaha keras dan hilal terlihat rupanya Ridho sang Bunda tak lagi dalam genggaman yang pada akhirnya mengantarkanku untuk tetap bertahan.

Lagi, setelah hal itu terjadi pendaftaran di salah satu akademi kembali terbuka. Hal yang dinanti dan diimpi sejak dulu, sebab apa yang ditawarkan selaras dengan visi.

Tapi pada akhirnya harus berujung patah hati, sebab Ridho Bunda kembali tak dimiliki.
Kukira semua kabar indah itu kan berujung indah, tapi rupanya aku salah. Terkadang, Allah menempatkan ujian dengan hal-hal yang kita sukai untuk melihat rasa syukur setiap hamba.
Kali ini, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima.

Menerima semua yang telah hadir dalam hidup dengan sebaik-baik penerimaan. Jangan sampai sesal kembali menghampiri sebab diri tak ingin memahami segala yang terjadi.
Perih itu pasti, kawan.

Tapi, tumbuhlah dimanapun kau ditanam.

Tetaplah mekar seperti bunga-bunga di taman. Selalu yakin, hal indah telah menanti di depan.
Satu pesan sebelum masuk perguruan tinggi yang masih ku ingat,

"Menjadi mahasiswa luar biasa di kampus yang bagus itu sudah biasa, tapi menjadi mahasiswa luar biasa di kampus yang biasa, itu baru luar biasa"

Semangat ya !
Kamu dan aku sama

#30haribercerita



@30haribercerita

#30haribercerita

#30HBC2107

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel