Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Indah Ta'aruf, Khitbah, Hingga Nikah Sebagian Sahabat, Menegaskan Jodoh itu Skenario Allah

Bersatunya dua insan beda jenis kelamin dalam sebuah kerangka pernikahan, menyisakan kisah yang menarik sebelum masuk ke tahap tersebut. Ada kisah-kisah menarik yang kadang unik, mewarnai hubungan mulia tersebut. Bagi pasangan yang mengalami, itu menjadi keindahan tersendiri yang tetap melekat dalam benak, terukir menjadi kenangan yang tak terlupakan. Sedang bagi yang membaca kisah yang diungkap, akan menambah keyakinan bahwa Allah memiliki rencana sempurna untuk menyatukan dua insan.

Sahabat ukhti, inilah deretan kisah-kisah menarik seputar pernikahan, yang diawali ta'aruf, khitbah, hingga nikah. Pengalaman dari sahabat-sahabat yang bersedia dibagi, dengan harapan ada kemanfaatan. Selamat membaca.

Kisah Indah #1: Yuni Choirunnisa



Setelah lulus S1 dari UPI Bandung, tahun 2008, Aku membaktikan diri menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) di SMKN 1 Karangtengah. Di sekolah ini, ada juga guru yang masih berstatus sama denganku, namanya Walad Mustasyfaini. Saat itu, beliau sedang menyelesaikan studi D4 d SITH ITB.

Dengan kesibukannya kami hampir tak pernah bertegur sapa, hingga suatu saat dipertemukan dalam kepanitiaan Prakerin siswa SMK dan persiapan akreditasi. Aku ditunjuk sebagai sekretaris, walau masih bingung tentang tugasnya, mengingat Aku adalah orang baru di sini.

Rekan-rekan, memberi "clue", konsultasikan saja semua tugasnya ke Pak Walad, kata mereka. Rekomendasi ini menjadikanku sering bertutur sapa dengannya. Ternyata ini adalah sebuah strategi "menjodohkanku" dengannya, entah siapa yang punya inisiatif.😁
Singkat cerita setelah semua kegiatan sekolah selesai (akhir tahun 2009), beliau datang ke rumah mengutarakan maksud hatinya kepada orang tuaku,  sekaligus meminta izin untuk mengenalkanku kepada orang tuanya. Sepekan kemudian Aku diperkenalkan kepada orang tuanya di Tangerang. Tak lama kami merencanakan menikah di tahun depan saat akhir tahun pelajaran (Juni-Juli 2010).

Tapi Allah berkehendak lain, atas rezeki dari-Nya,  November 2009 Aku lulus tes CPNS. SK turun awal Februari 2010 dan Aku ditempatkan di SMPN 4 Naringgul. 

Ketika menyampaikan SK ke sekolah tersebut, bermaksud melapor kepada KS, Aku malah ditanya sudah menikah atau belum. Kukatakan belum. Karena menemui KS SMP diantar oleh calonku, Pak KS memintaku untuk menikah terlebih dahulu dan mulai bertugas di awal Maret 2010.

Masih dengan perasaan kaget dan bingung kami berkonsultasi dengan orang tua masing-masing dan akhirnya sepakat untuk menggelar akad nikah. Kami hanya mempunyai waktu sepekan untuk mengurus surat-surat persiapan pernikahan. Akhirnya biidznillah Jum'at, 26 Februari 2010 (12 Rabiul Awal 1431 H) kami menggelar akad nikah, dengan segala kemudahan yang Allah berikan, walau dengan segala kesederhanaan. Alhamdulillah 'ala kulli hal

Kisah Indah #2: Mila Nursyafriatini   


Tahun 2005, Aku menjadi bagian dari keluarga Besar SMPN 1 Mande. Sebagai orang baru di sekolah ini, tentu mencari "kawan" yang baru juga, agar ada rasa senasib sepenanggungan. Eh ternyata, Aku tidak sendiri. Ada seorang guru baru juga, Namanya Tenten Rakhman Taufik.

Karena saat itu kami merasa bernasib sama, sama-sama baru masuk ke dunia pekerjaan, akhirnya banyak ngobrol tentang pekerjaan menjadi seorang guru... dan ternyata obrolan nyambung, karena memang sama-sama menjadi orang baru di sini. 

Selang setahun kami saling mengenal, tiba tiba obrolan beralih tentang masa depan, bagaimana rencana ke depan, ingin seperti apa. Aku berujar kepadanya, jika ada seorang lelaki yang serius, mangga langsung saja kita khitbah/bertunangan, gitu kataku.

Tak dinyana, dia menyatakan sanggup untuk memenuhi "tantangan" ini. Siap mengkhitbah. Wow..

Tapi dengan syarat tertentu, katanya. Bahwa jika Aku bersedia menerima segala kekurangan yang ada padanya, terutama tentang kondisi pekerjaan. Memang, kami masih berstatus guru honorer. Kebayang kan, berapa gaji guru honorer. Jika siap dengan segala kekurangan tersebut, kita lanjut ke tahap yang lebih serius, katanya.

Akhirnya..... Bismillah, kami berdua, menyampaikan niatan kami kepada orang tua kami masing-masing...

Alhamdulillah,, ketika Aku diperkenalkan kepada orang tuanya, mereka langsung setuju...Akan tetapi sebaliknya, orangtuaku agaknya kurang setuju.

Sekian waktu, kami sempat lost contact. Sengaja memang Aku mengganti nomor teleponku.
 
Namun..... Entah bagiman ceritanya... Tiba tiba kami bisa komunikasi lagi... Dan kembali saling meyakinkan tentang niat kami....

Barokallah.... Akhirnya tak lama setelah kami kembali berkomunikasi,, Aku meyakinkan kembali orang tua kami akan niatan kami... Hingga akhirnya tahun 2007... Tepatnya saat itu bertepatan dengan milad saya,, kami sama-sama memutuskan melaksankan khitbah/tunangan.

Tepatnya di tanggal 19 Nobember 2007...

Kemudian,, setelah komitmen itu kami pegang....

Kami berusaha sedikit demi sedikit menabung untuk keperluan pernikahan kami , yang saat itu kami rencankan 6 bulan berikutnya setelah khitbah...

Dari tabungan.kami, kami berniat ingin membantu orang tua kami meskipun hanya hal-hal kecil...seperti kartu undangan, souvenir... dan lainnya....

Sambil kami menunggu dan berharap suatu saat kami bisa berstatus guru PNS (#wkwkwkw...dulu kami anggap mudah bisa menjadi PNS, tapi ternyata eh eh... Susahnya ).

Alhamdulillah..akhirnya enam bulan setelah khitbah, kami pun menikah...Mengawali kehidupan baru sebagai suami dan istri.

Kisah Indah #3: Santi Kurniawati




Kukenal suamiku ini di Kampus UPI Bandung, sekitar Bulan Desember 2000. Beliau salah seorang alumni dari jurusan yang sama, namun beda angkatan. Beda usiaku dengannya 12 tahun, dan beda angkatan sebanyak 10 angkatan.

Beliau ini walau sudah lulus, namun tetap aktif "ngospek" atau menjadi pembimbing PA di jurusan. Perkenalan aku dengannya, dimotori oleh seorang kakak kelas, sekitar bulan Februari 2001. 

Singkat cerita, keluarga beliau datang ke orangtuaku, untuk memintaku "dipulung mantu" alias dijadikan menantunya. Semua menerima. Tanggal 14 Juli 2001, berdasar kesepakatan, lelaki bernama Cahri itu menikahiku, walau waktu itu aku masih berstatus mahasiswa di perguruan tinggi tersebut.

Jika ditanya, kenapa masih kuliah sudah menikah? Wallohu a'lam. Yang pasti, itu sudah skenario Allah.

Kisah Indah #4: Ratna Nengsih



Daerah Surian, Sumedang, mayoritas penduduknya termasuk yang masih memegang pemahaman, "perempuan itu tidak usah berpendidikan tinggi". Termasuk orang tuaku. Namun Aku memaksa, dan alhamdulillah selesai juga kuliah di Sumedang.

Sebelum selesai kuliah, sebenarnya ortuku sudah mencarikan jodoh untuk buah hatinya ini, salah satunya lewat anak pamanku. Dikenalkanlah dengan seorang lelaki bernama Muhammad Nawawi, orang Cianjur yang kuliah di UIN Bandung, dan ternyata sekelas dengan rekan kerjaku sekarang, Teh Nina Gartina. Lelaki ini pinter ngaji, soleh, dan ganteng hehe😃 Dan itu klop banget dengan kriteria ayahku.

Singkat cerita, setelah semua setuju, setelah tamat kuliah kami menjalani proses ta'aruf yang waktunya sebentar, lanjut khitbah dan akhirnya nikah.

************
Masya Allah, begini keagungan syariat Islam, yang melarang manusia untuk berpacaran. Ternyata, pernikahan yang tak didahului pacaran lebih menenangkan dan bahkan cinta kasih justru tumbuh setelah melewati pintu kehalalan bernama pernikahan. Kita bahagia. Alhamdulillah.

Ada banyak skenario Allah Ta'ala untuk mempertemukan dua insan beda gender, dalan sebuah bangunan bernama rumah tangga, melalui pintu pernikahan.

Ada banyak cerita indah yang menjadi kenangan pasangan, bagaimana mereka dipertemukan dan disatukan oleh Yang Maha Rahman.

Yang jelas, seorang lelaki soleh akan dipertemukan dengan perempuan solehah. Inilah harapan yang senantiasa dipanjatkan melalui doa kita, sebelum berjodoh, beroleh pasangan yang akan saling membersamai dalam ketaatan kepada Allah Al Musta'an.

Semoga keluarga kami, keluarga sahabat semua, senantiasa ada dalam ridho dari-Nya. Dan semua diawali dengan menjaga diri dari kemaksiatan, tanpa pacaran.

Terima kasih kepada:
1. Bu Yuni Choirunnisa dan keluarga
2. Bu Mila Nur Syafriantini dan keluarga
3. Bu Santi Kurniawati dan keluarga
4. Bu Ratna Nengsih dan keluarga

Cerita yang kita bagi, semoga menginspirasi.