Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Mau Sendiri Dulu, I Need Silence for Myself

Aku Mau Sendiri Dulu, I Need Silence for Myself. Ya....

Terkadang kita harus menyendiri, merenda sunyi. Menjauh dari rutinitas, walau sesaat. Membuat perenungan demi perenungan tentang langkah yang pernah dijalani, tentang kata yang pernah terucap.

Manusia akan menemukan kesalahan dirinya atas sesuatu yang dikerjakan, ketika sesuatu telah berlalu. Ini namanya muhasabah atau introspeksi diri.

Dalam kesendirian, secara jujur aku berucap:

Mengapa Aku Hampa?


Ketika engkau cukup lama menjalani sesuatu, akan datang satu masa saat engkau kehilangan makna. Bingung, hampa, kosong, seolah berjalan tanpa arah dan tujuan

Maka kebosanan akan segera menghampiri, kelesuan dan rasa malas pun tak terelakkan. Jangankan semangat, sekedar normal saja sudah sulit untuk dipertahankan

Orang bilang itu masa crisis, insecurities, atau apapun. Yang jelas engkau berhenti berharap, dan menerima kenyataan apa adanya, menjadi manusia terburuk, jiwa tanpa idealisme

Mungkin itu saatnya kita untuk kembali berpikir dan menata hati, menyendiri untuk lebih banyak mendengar dari diri sendiri, menyepi agar lebih banyak bicara dengan kebenaran

Benarlah tutur Sang Bijak, dunia ini seperti air yang diseberangi. Panjang tempuhannya, lama jelajahnya, tapi selama kita ada diatas air, maka kita akan selamat, semua baik-baik saja

Namun ada kalanya kita terpesona dengan keindahan bawah air, menahan nafas hingga tak tersisa bagi otak. Padahal kita dicipta bukan untuk ada diatas air, bukan dibawahnya

Engkau pahami, saat dunia itu mulai mengikat hati. Ia hilangkan kenikmatan akhirat, pelan-pelan tanpa disadari. Ketika itu pula, makna dan arti kebahagiaan sejati direnggut darimu

Mulailah candu-candu bahagia semu di-infuskan pada dirimu, seolah tanpa itu engkau tak bahagia. Budaya instan, kasar, pamer, mesum. Seolah tak ada hidup setelah hidup ini

Jadi apa yang paling penting bagi kita? Jawaban itu bisa jadi ditopengi oleh kata-kata manis dan pencitraannya. Tapi nilai diri selalu bisa diketahui dari apa yang dikhawatirkan

Apa yang kita khawatirkan? Hartakah? Popularitas? Pasangan? Makan buat besok? Atau diri kita sendiri? Masih dunia? Maka wajar saja akan datang masa kehampaan itu menghampiri

Mungkin saat ramai kita masih bisa terlihat bahagia, tapi kita tahu siapa diri kita saat kita sendiri. Hanya masalah waktu saja sampai kita membenci keramaian yang menipu

Kecuali bila jiwa kita menemukan peraduannya, dia takkan pernah tenang. Sebab jiwa itu selalu dalam perjalanan, untuk menemukan asalnya, kembali kepada fitrahnya.