Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Umi, Kenapa Ada Darah?


Beberapa waktu lalu, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bisa bertemu seorang ahli parenting, menimba ilmunya, dan juga mendapatkan bukunya. Beliau dalah Ibu Lusiyanti atau lebih dikenal dengan nama Yanti Tanjung, seorang penulis buku-buku ideologis.

Konsen-nya di dunia parenting ideologis, membawanya menjadi seorang trainer, motivator, dan inspirator dunia rumah tangga, yang semuanya dilandaskan atas nilai-nilai Islam.

Ada satu kisah sederhana dari beliau, tentang dua anaknya yang menginjak masa remaja. Menjalani haidh pertama, dan bagaimana sikap orang tua dalam mendampingi anaknya yang menginjak masa baligh.

Teringat juga obrolan dengan Pak Taopik Andi, pimpinan STP SD Khoiru Ummah Cianjur tentang tradisi siswa perempuannya yang menginjak usia baligh. Di sana suka “dirayakan”, ada ucapan selamat dari teman-temannya, “Selamat ya kamu sudah baligh.”

Kisah di bawah ini menyiratkan apa saja yang semestinya dipersiapkan seorang umi bagi buah hatinya yang akan dan sudah menginjak usia baligh. Selamat membaca.

Umi, Kenapa ada Darah?

Tiba-tiba Puput si anak sulung memeluk uminya erat-erat sambil bercucuran keringat dan air mata, menangis tidak jelas ujung pangkalnya. Ketia umi bertanya, “Kenapa kakak, kenapa tiba-tiba menangis dan peluk umi erat-erat begini, ada masalah apa sebenarnya?” Umi..umi..hik hik, suara lirih kakak tanpa menjelaskan apapun. “Ya, sudah mari duduk dulu, kalau sudah tenang ceritakan sama umi ya.”

Beberapa saat kakak dibiarkan sesenggukan menangis, tidak lama kemudian mereda,  umi pun mencoba membujuk Kakak untuk bercerita.  Akhirnya Kakak bicara juga, “Umi kenapa ada darah? Itu darah haidh ya?” Oo…ternyata itu masalahnya yang buat Kakak nangis, sambil memeluk Kakak untuk kesekian kalinya, umi berbisik, “Kak, itu artinya Kakak sudah baligh, sudah dewasa, sudah dibebani syariah Islam, saat ini apa yang menjadi kewajiban umi berarti menjadi kewajiban Kakak juga, jadi muslimah yang taat sama Allah, karena Umi sudah berlepas diri dari pertanggungjawaban atas perbuatan Kakak, Kakak sendirilah yang akan mempersembahkan amal Kakak di hadapan Allah, selamat ya Nak…sekarang sudah beranjak dewasa.”

Beda lagi dengan si Adek dengan penuh rasa bangga sudah baligh mengumumkan ke teman-temannya, “Hooy, aku sudah haidh lho, saat ini aku sudah jadi muslimah dewasa (sambil senyum).” Bukannya malu-malu mengungkapkannya tapi penuh percaya diri bahwa beban syariah Islam saat ini sudah berada di pundaknya. Saat itu si Adek baru saja melewati usia 10 tahun.

Dibisikkan seperti itu bukannya berhenti nangisnya malah makin sesenggukan tanpa kata. Saat itu usia Kakak beranjak 11 tahun.

Mendampingi  anak perempuan saat mereka usia baligh adalah momentum yang sangat mengharukan baik bagi anak maupun bagi umi. Terkadang juga sangat membanggakan melihat anak begitu mengalami usia dewasa penuh suka cita, merasa dapat pahala langsung dari amal sholeh dan dosa pada amal yang salah membuat dirinya dipercaya sebagai seorang muslimah dewasa.

Tentu setiap anak perempuan akan berbeda kisah saat menempuh usia baligh, hal ini wajar karena proses pendidikan yang mereka alami berbeda dari orang tuanya, juga berbeda situasi dan kondisi yang mengantarkan kedewasaannya.

Bila pendidikan yang diterapkan sesuai dengan proses pendidikan anak perempuan, serta fase-fase pendidikan sesuai dengan perkembangan usia dan kematangan berfikir anak perempuan, tentunya akan kita dapati sang anak begitu antusias dan percaya diri saat mengalami momentum haidh. Bahkan tidak merasa jijik sedikitpun untuk mensucikan sendiri kotoran najis haidhnya, karena dia faham cara-cara mensucikannya dan sangat menyadari bahwa itu bagian dari ibadah dalam Islam.

Anak pun akan menyambut dengan suka cita hokum Allah dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada sang Pencipta, berlomba dalam meraih pahala dan surge yang dijanjikan. Dia akan memacu dirinya sekencang lari yang dia bisa untuk memenuhi akalnya dengan tsaqofah, dan mempercantik perilakunya dengan akhlak dan syariah. Tak ketinggalan ruhul jihadnya semakin memuncak yang akan dia abadikan dalam perjuangan dakwah demi kemuliaan Islam yang dia cita-citakan.

Beda pula bila sang umi rada mengabaikan proses ini, bahkan tidak menduga anak perempuannya mengalami masa haidh relative cepat, akan ikut bingung dan sedikit terlambat menyiapkan sang anak untuk memasuki beban taklif, mendadak seragam sekolah SD ganti dengan jilbab, mendadak sholat lima waktunya segera disempurnakan, mendadak materi pergaulan ditariningkan, mendadak urusan-urusan kemandirian dalam menjalankan seluruh syariah yang terkait dengan dirinya diberikan.

Apa yang terjadi? Anak akan kolaps dan ikut stress, khawatir menghadapi dosa bila belum bisa ditunaikan, umi pun mengalami kekhawatiran tingkat tinggi bila anak tidak menjalankan kewajiban. Tapi ada juga kok para umi yang tidak memperhitungkan keadaan ini, biasa saja dan cenderung membiarkan, yang ini uminya lebih parah. Yaaah…begitulah.

Sebenarnya kesuksesan seorang umi dalam mengantarkan beban syariah (mukallaf) kepada anak-anaknya tergantung pada proses pendidikan sebelumnya saat usia dini (0-6 th) dengan menstimulus dan membangun konsep diri positif berikutnya pas saat usia pra baligh (7-10/12 th) dengan menempuh pembiasaan dan pelatihan (drill).

Anak-anak yang dibiasakan bangun subuh saat azan berkumandang dan sudah menjadi habit baginya tentunya tidak akan susah menjalankan kewajiban shalat subuh. Demikian pula ketika anak perempuan sudah dibiasakan memakai jilbab saat usia pra baligh dan senantiasa menutup auratnya di hadapan yang bukan mahrom sudah terlatih, tentunya tidak akan kebingungan dan mendadak memaksa anak untuk pakai jilbab begitu dia haidh.

Oleh karena itu ilmu yang mumpuni, kesabaran yang cantik, kepiawaian yang terlatih dan ketelatenan memperhatikan setiap perkembangan anak dll sangat dibutuhkan umi. Umilah yang paling berambisi untuk menjadikan anak-anaknya bertakwa, umilah yang paling antusias menyuksesan setiap raihan-raihan kesuksesan pendidikan untuk anak-anaknya.

Wajar bila pikiran, tenaga, dana, dan waktu bagi umi adalah pengorbanan tertinggi untuk dipersembahkan untuk melahirkan generasi emas terdepan dalam keimanan dan ketakwaan.

Mempersiapkan anak sampai baligh tidak hanya sekedar mempersiapkan mampu menunaikan kewajiban-kewajiban individu baginya, seperti sholat, puasa, menutup aurat dll. Tapi juga mempersiapkan tugas mulianya sebagai hamba Allah yang paripurna yang juga mengemban dakwah Islam, meneruskan perjuangan orang tuanya demi tegaknya syariah Islam yang agung dalam naungan Khilafah Islamiyah di saat usianya baru beranjak 12 tahun atau saat 11 tahun ataupun saat usia yang masih relative muda 10 tahun.

Anak-anak yang sudah dipersiapkan di tangan ibu ideologis yang bertakwa tentunya anak-anak yang tidak akan gamang menghadapi kehidupan, justru mampu menghadapi semua persoalan yang terjadi yang sedang dia hadapi dengan solusi Islam yang dia yakini.

Tidak hanya bisa memberikan solusi buat persoalan dirinya, bahkan mampu mengeluarkan umat dari keterpurukan persoalan mereka dengan mendakwahkan solusi-solusi Islam di antara teman-teman remajanya dan berpengaruh merubah situasi yang rumit dalam kehidupan mereka.

Jadilah dia sosok anak perempuan yang bersahaja sebagai subyek perubah demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Seri Parenting Ideologis : Menjadi Ibu Tangguh