Seni Mendidik Anak Disiplin, Talkshow Khoiru Ummah bersama Bu Yuliana Gultom



Apa itu disiplin? Makna disiplin adalah mengarahkan perilaku menjadi Perilaku yang baik dan benar (akhlaqul karimah). Dalam konteks pendidikan bagi anak, disiplin berarti mengarahkan perilaku anak menjadi perilaku yang sesuai dengan syariat.

Pendidikan kedisiplinan ini penting sekali bagi tumbuh kembang seorang manusia. Jika tidak dibiasakan sedari kecil maka akan menimbulkan banyak resiko. Apa saja resikonya? Berikut diantaranya.

Resiko Tidak Diajarkan Disiplin

Ketika anak-anak:

1. Sulit diatur
2. Gampang marah
3. Suka Berteriak
4. Berantakan

Ketika Dewasa:

1. Tidak bertanggungjawab
2. Tidak bisa menempatkan diri

Pertanyaan berikutnya, kapan kedisiplinan itu harus mulai dikenalkan dan dibiasakan? Jawabannya: Mulai Dari Sedini Mungkin, karena sesuai fitrah si anak tersebut.

Bagaimana langkah mendisiplinkan anak?

Langkah Pertama Mendisiplinkan Anak
  • Orangtua Menyelesaikan Masalah Diri Sendiri dan Mereka Berdua, hasilnya Kesepakatan Tujuan Pengasuhan
  • Buat Jadwal Kegiatan Harian dan Bulanan (sesuaikan dengan usia anak) , hasilnya Jadwal Harian dan Bulanan Anak 
  • Sosialisasikan Tujuan dan Alasan Kegiatan serta Resikonya kepada Anak, hasilnya Jadwal Mulai Dilaksanakan 
  • Evauasi 
Langkah Kedua Mengajarkan Disiplin

Kebiasaan Baik , 1 menit setiap hari waktu yang sama

Bagaimana perlakuan kepada anak tergantung usia mereka?

Menurut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu’. Ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak, yaitu :

1. Kelompok 7 tahun pertama (0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja
2. Kelompok 7 tahun pertama (8 - 14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan
3. Kelompok 7 tahun pertama (15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat 

Tips Mendidik Anak

  1. Ikhlas dan benar
  2. Mendidik adalah perjuangan 
  3. Mendidik dengan keteladanan 
  4. Mendidik dengan cinta 
  5. Mendidik dengan kelembutan 
  6. Tidak mencela, memarahi dengan emosi 
  7. Bersikap adil 
  8. Jangan tergesa-gesa memetik hasil 
  9. Serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala 

Tujuan Membuat Anak Disiplin

  1. Menjadikan anak yang bertaqwa (aqidah yang lurus, iman yang kuat, ibadah yang benar, dan akhlak yang baik dan benar).
  2. Mempersiapkan menjadi calon suami sholeh dan istri yang sholehah. 
  3. Mempersiapkan menjadi ayah dan ibu yang paham ilmu serta bertanggungjawab 
  4. Menjadi calon profesional 

Pesan buat Ayah Bunda

Tidaklah suatu keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, kezaliman, kesempitan, bahkan sepotong duri pun yang menusuk seorang muslim, melainkan dengan hal itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)

Demikian sahabat ukhtinews, ikhtisar dari acara talkshow parenting yang diselenggarakan oleh STP SD Khoiru Ummah Cianjur melalui aplikasi Zoom Meeteing. Dan istimewanya, pengisi acara/narasumber dari talkshow bertajuk "Miku Talk #7" ini adalah Bu Yuliana Gultom, S.Pd.,M.Pd, salah seorang guru di SMPN 1 Mande.

 




 

Kami berkesempatan untuk mengikuti acara talkshow parenting tersebut. Selain materi-materi di atas, sebenarnya ada satu hal menarik lainnya, cerita tentang pengalaman pengasuhan putra sulung Bu Yuli. Dari cerita tersebut, kami menangkap makna bagaimana orientasi, sudut pandang, dan konsep pendidikan anak, yang sesuai syariat Islam.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita baca sampai tuntas postingan ini.

Rafif Dulu dan Rafif Sekarang


Awalnya Rafif anak yang periang, suka berbagai hal tentang mobil. Di usia 3 tahun. Saya mulai mendidik terlalu keras. Tidak sesuai dengan usianya.

Di usia 5 tahun, saya terlalu memaksa belajar, berharap Rafif bisa baca tulis sebelum masuk SD.

Terlalu banyak dilarang, bahkan bukan tentang hal yg berhubungan dengan syariat.

Saya waktu itu lulusan S2 dalam pendidikan umum, tapi sepertinya masih jauh pemahaman saya menjadi ibu yang bauk dan benar. Anak lebih banyak diperintah untuk menurut tanpa memberikan banyak penjelasan tentang alasannya.

Saya seorang guru, tapi saat itu saya belum sanggup mendidik anak-anak agar paham melakukan suatu pekerjaan.

Pernah suatu ketika, Rafif main, dan setiap pulang main, bajunya selalu kotor. Padahal, kalau saja saya mengerti bahwa itulah proses belajarnya. Saya ga akan marah. Saking seringnya, saya suka memberikan label buruk sama Rafif, jorok lah, ga mau dengerin lah.

Hal hal sepele seperti ini, sering membuat saya tersulut emosi. Keajidan demi kejadian, bukan membuat saya tenang malah makin menjadi.

Akhirnya di tahun 2013, ada kejadian luar biasa. Rafif masuk rumah sakit, dengan gejala seperti kejang kejang tapi badan tidak panas dan semuanya terdeteksi sehat.

Kami berpikir, jiwanya yang sedang sakit. Akibat pola asuh kami yang terlalu keras dan kami tidak terlalu dekat secara emosional.

Kami sepakat untuk merubah orientasi pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Tujuannya hanya untuk menjadikan mereka bertaqwa.

Kami mulai belajar memperbaiki diri, mencari ilmu, dan lebih akrab lagi dengan anak-anak, terutama anak pertama kami.

Mulai menanamkan kedispilinan tapi dengan penjelasan mamfaat. Seringnya dilakukan sharing, antar ayah dan anak, ayah dan ibu, serta kakak dan adik.

Selain ingin menjadikan anak bertaqwa, yang pertama kami minta kepada Allah, kami ingin Rafif sembuh dari sakitnya.

Ditambah saya pernah mengizinkan Rafif bermain PS(play station). Setiap Minggu. Tapi, game ini membuat dia sering marah jika diminta berhenti.

Sebelum sakit, rafif kadang suka melawan dan marah-marah.

Langkah yang kami lakukan

Dari sana, kami merasa ada yg salah dalam pengasuhan. Maka beberapa langkah saya ambil, antara lain:  
  • Pertama, Saya mulai mengikuti seminar parenting, lebih sering baca buku, mencari informasi, dan yang utama
  • Kedua, saya sering membacakan ayat-ayat suci al qur'an di dekat Rafif. 
  • Ketiga, kami sering memeluk Rafif dan mengelus bagian kepala, dada, serta punggungnya, sambil berkata Rafif hebat, Rafif sholeh, Ibu dan ayah sayang Rafif. 
  • Keempat, kami mulai mendengar pendapatnya. Sering ngobrol tentang apa saja. 
  • Kelima, agak melonggarkan mendisiplinkan masalah dunia, misal ketika Rafif tidak mau langsung mengerjakan PRnya, saya buat kesepakatan dg Rafif waktunya mau kapan. Dan saya sampaikan resikonya jika tidak mengerjakan. Awalnya sering ga berhasil. Tapi, pada akhirnya ada satu titik dia mengerjakan PR tanpa disuruh. 
Kalau mendisiplinkan sholat, kami tegas, tapi dengan penjelasan alasan dan tujuannya kenapa harus sholat. Selain itu, kami mulai mengenalkan siapa Allah dan konsep tauhid. Karena Rafif usianya sudah hampir 8 tahun.

Alhamdulillah setelah setahun, Rafif berangsur sembuh.

Sampai dengan kelas 6 (usia 11 tahun), tiba-tiba Rafif minta pesantren. Padahal saya sendiri kurang setuju dan tidak menginginkan Rafif pesantren. Alasannya, saat itu karena beberapa temannya ingin masuk pesantren. Tapi, saya jelaskan, ada tes masuk, jadi bisa jadi Rafif ga akan baengan sama teman-temannya. Alhamdulillah dia sepakat.

Rafif saat itu sebenarnya belum siap, karena kemampuannya dalam baca al quran belum cukup untuk meluluskan dia ke beberapa pesantren ternama. Dan, memang ga lulus akhirnya.

Tapi, ada SMP Boarding School yang lumayan bagus, akhirnya menerima Rafif. Setahun pertama, Rafif mulai senang berinteraksi dengan al quran, mulai bisa mandiri, mulai bisa memimpin.

Alhamdulillah, berkah pandemi. Saya bisa ketemu Rafif tiap hari selama hampir 7 bulan.

Saat itu, saya jadikan momen mereview apa yang masuk belum sempurna Rafif lakukan dalam ibadah. Saya perhatikan sholatnya, wudhunya, cara bersikap dengan adik.

MasyaAllah, perubahan yang saya lihat

1. Dulu dia jorok. Sekarang dia sangat memperhatikan apakah pakaian najis atau tidak.
2. Dia sudah paham, kalau mimpi basah, harus mandi wajib. Biasanya sebelum shubuh dia mandi wajib 🙂
Jadi, ga telat ke mesjid.

3. Ketika malam tidur jam berapa juga, hampir selalu sholat Shubuhnya ke Mesjid.
4. Mulai sering mengalah dan ga gampang emosi hadapi adiknya.
5. Sering banget peluk ibunya. Dan kalau saya bilang ibu sayang Rafif, dia jawab Rafif sayang ibu.
6. Karena pandemi, saya pinjamkan dia hape khusus dia. Dia senang banget. Tapi, saya tetap beri aturan meminjam. Hanya untuk pelajaran. Sabtu minggu boleh main game, tapi sebelum main harus hafalan minimal 1 halaman, dan sudah mengerjakan pekerjaan rumah 😀 (jadi makin lama mulainya). 

Kalau mau pinjam izin, kalau mau browsing izin, kalau mau lihat youtube saya tanya tentang apa yg mau dilihat, lihatnya juga ga boleh sendirian, tapi di tempat yang masih saya bisa bolak balik lihat, kalau malam ga boleh pinjam. (Panjang banget aturannya ya)

Aturan penggunaan gadget buat Rafif harus masih ketat.

Syarat anak-anak punya gadget pribadi

a. Usia mininal 17 tahun
b. Kalau sebelum 17 tahun sudah memenuhu syarat 3 dan seterusnya, maka diizinkan meminjam
c. Paham kinseo dasar aqidah (la ilaha illallah)
d.Sholat wajib tidak diauruh suruh
e. Wudhu benar, gerakan sholat benar.
f. Rutin mengerjakan sholat sunnah rowatib.
g. Paham tentang konsep halal dan haram.
h. Paham apa saja yang harus dihindari dari bahaya gadget (pornografi, kekerasan, dll)
i. Sudah menunjukkan sikap lebih mencintai Allah dan Rasul Nya. (Misal : langsung bisa berhenti main gadget ketika mendengar adzan, menghindari game yang bertentangan dg hukum Islam)

Alhamdulillah, Rafif sudah hampir memenuhi syarat yang panjang sekali di atas. 🙂. Tapi belum bisa seutuhnya diberikan. Karena usianya belum 17 tahun. Jadi, hanya dipinjam ketika dia pulang asrama lagi nanti.

Kok sebegitunya saya mengatur anak dengan gadget? Karena kami ingin, kami lah guru pertamanya, kami lah yang mengajarkan adab, kami lah yang menjelaskan makna kehidupan, kami lah yang pertama menjelaskan segala kebaikan dan kebenaran pada anak.

Supaya, apapun kejadian, perilaku dan keburukan yang ada di lingkungan luar atau di gadget, mereka tidak terpengaruh, karena sudah memiliki aqidah dan akhlaq yang baik dan benar. InsyaAllah.

7. Selama di rumah, saya sering mendengarkan ceramah lewat internet, dia itu suka penasaran banget. "Bu, itu tentang apa? Kiamat ya? Sholat ya?"

Pokoknya hampir setiap tema ceramah, dia ingin tahu.

Ada kejadian unik, kan dia dikasih izin main game Sabtu Minggu. Setiap main, maksimal 1 jam/hari. Suatu saat, setelah dengar ceramah hukum bermain game. Dia galau, dan cerita. Bu, katanya main game yang ada aurat perempuan nampak, perang-perangan, dan menyembah berhala, hukumnya haram ya. Kan udah sering ibu bilang. Ya, bu, gimana ya, berarti game ini dan game itu (rafif menyebutkan namanya, saya lupa) haram dong. Saya sambil senyum, trus Rafif mau gimana.

Agak lama jawab. Ya, harus dihapus aplikasinya di hape. 🙂

8. Berusaha menjaga adab dengan kakek dan neneknya, begitu juga dengan kedua orangtuanya.

Rafif sayang sekali dengan kakek dan neneknya. Dia sering berusaha untuk tidak menyakiti perasaan mereka.

Suatu saat, saya dapat chat WA di grup keluarga. Tiba-tiba, opa nya(sebutan kakek Rafif) bilang, Rafif melanjutkan ke SMA saja atau MA.

Karena, itu hape saya. Saya bilang, ke Rafif, opa bilang gini.

Ya udah, sini Rafif yang balas chat nya. Saya bilang jangan, kamu mau ngomong apa dulu. Pokoknya adaaaa deh sambil senyum.

Dia ngetik chat hampir 20 menit. Setelah selesai, dia tunjukkan isinya. Bu, gini ga apa-apa. Dan saya jadi gemeteran bacanya, sambil nahan nangis.

Isinya hampir seperti ini :
Opa, yang minta ke pesantren itu apip (nama panggilan akrabnya). Apip mau jadi hafidz qur'an dulu. Supaya apip bisa ajak sekeluarga masuk syurga. Lagipula, insyaAllah ilmu dunia mah bisa didapat, kalau ilmu akhirat serius dipelajari. Nah, nanti setelah lulus Pesantren, apip bebas mau kuliah jurusan apa aja. Ini apip yang nulis opa, hehe
Terus dia bilang, eeh ini mah kayak ceramahin opa ya bu. Ga jadi deh. Akhirnya dia edit chat nya sampai hampir 10 menit. Baru dikirim.

Hati siapa yang ga lumer bacanya, apalagi ibunya. Mohon do'anya semoga cita-cita Rafif tercapai...aamiin ya robbal 'aalamiin.

Kalau Rafif baca ini, ibu ingin sering-sering mengatakan, ibu sayang banget sama Rafif... 
Masya Allah...saya jadi speechless. Dan saya yakin, semua keluarga memiliki cerita tersendiri, dengan segala dinamikanya dalam mendidik anak. Semua memiliki cara yang mungkin unik, bagaimana menanamkan pemahaman hakikat kehidupan, bagi putra putri tersayangnya.

Kita berharap, setiap pengalaman dari siapapun, semoga menjadi tambahan keilmuan bagi siapapun yang berazam untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik, lebih sesuai dengan tuntutan syariat, dan lebih ghirah untuk memperjuangkan Islam diterapkan dalam segala lini kehidupan..

Terima kasih Bu Yuliana Gultom, terima kasih semuanya yang telah membaca artikel ini. Jazakumullah khairan katsiran.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel