Puisi Bu Nina Gartina: Untuk Kalian yang Allah Titipkan


Anak adalah karunia Ilahi yang tak terkirakan nilainya. Pernikahan tanpa kehadiran anak kerap memicu persoalan tersendiri. Banyak keluarga atau pasangan suami-istri yang sulit mendapatkan anak dan mati-matian berikhtiar agar mempunyai keturunan.

Kehadiran seorang anak juga membuat suami-istri memiliki keterikatan dan tanggung jawab untuk membesarkan, merawat, dan mencintai bersama-sama. Jadi, kehadiran anak secara tidak langsung akan semakin mendekatkan pasangan suami-istri.

Secara langsung maupun tidak, sebenarnya orang tua telah banyak berharap dan berdoa agar kebahagiaan rumah tangga semakin bertambah sempurna dengan hadirnya anak-anak mereka.

Bagaimanapun, anak adalah tempat bertumpunya jutaan harapan dan angan orang tua. Semua orang tua pasti ingin anaknya beroleh kebahagiaan, kesuksesan, dan kesejahteraan, dan yang lebih penting dari semua itu, orang tua mendamba semua anak keturunannya menjadi hamba Allah yang soleh.

Namun yang pasti juga, anak-anak yang kita cintai, kita curahkan sayang dan perhatian, disertai iringan doa dan harap, mereka adalah titipan dari Allah Sang Pemilik Kehidupan. Sebuah titipan yang harus dijaga sebaik-baiknya, dan dilepas penuh kerelaan jika takdirnya tiba menemui Sang Maha Penciptanya, lebih dahulu dari kita.


Dan Puisi itu Menghujam Rasa


Mendapat kiriman sebuah puisi dari seseorang, kemudian dibaca bersama keluarga, dan ternyata puisi tersebut membuat kami menangis tersedu. Air mata tanpa rekayasa, Begitu mendalam maknanya, menghujam kesadaran, dan masya Allah, inilah menjadi inti pengasuhan keturunan. 

Untuk beberapa saat kami tertegun. Membaca kembali kata demi kata, kalimat demi kalimat, lebih mendalami makna-makna yang disiratkan puisi tersebut, dan jadinya kami speechless, tak mampu berkata.

Puisi ini adalah kiriman sahabat kami, Bu Nina Gartina. Seorang guru di SMP Negeri 1 Mande Cianjur. Ini bukan puisi pertama dari beliau yang kami baca, sudah ada 3-4 puisi yang sudah direview, dan hasilnya tayang di web sekolah tersebut. Temanya beraneka ragam. 

Puisi kiriman kali ini bertema tentang anak, tentang hakikat anak itu sendiri, harapan-harapan, dan doa terbaik. Berikut teks lengkap puisi tersebut.

Untuk Kalian yang Allah Titipkan

Saat ini kami masih dapat menemani
Kalianpun masih asyik ditemani

Nanti...
Selalu begitu semoga

Tahu dan paham
Bahwa kalian hanya titipan

Ego selalu berbeda memberi rasa
Serasa kalian milik kami seutuhnya
Ampuni😢

Membayangkan kalian kelak punya dunia sendiri
Kalian tak lagi bisa kami temani
Masih ada ketidakrelaan
Begitu egonya kamikan?!
Ampuni😢

Tumbuh kembanglah dengan iman
Meski kami belum mampu bekali
Ilmu

Entah siapa yang akan lebih dulu
Semoga kita selalu ada dalam kesiapan
Meski jauh dari kriteria penghamba-Nya
Meski raga tak layak
Selalu yang diminta

HUSNUL KHATIMAH
🌹

Catatan dari Al faqir 

Jika pengirim puisi ini menginginkan saya mengulas karya ini, rasanya susah menemukan rangkaian kata yang tepat untuk secara persis mengungkap makna seutuhnya. Namun kita coba dengan cara lain, men-syarah-nya. Semoga dengan ini makin menguatkan makna.


[Untuk kalian yang Allah titipkan], Saat ini kami masih dapat menemani
[dan] Kalianpun masih asyik ditemani.

[Bagaimana dengan] Nanti...[?]
[Kita berharap]Selalu begitu semoga

[Kami]Tahu dan paham
Bahwa kalian hanya titipan
[dari Allah Sang Penggenggam kehidupan]

[Namun]Ego [kami] selalu berbeda memberi rasa
Serasa [bahwa] kalian milik kami seutuhnya
[Ya Robb] Ampuni [kami]

[Sering kami] Membayangkan kalian kelak punya dunia sendiri
[ Di saat itu] Kalian tak lagi bisa kami temani
[Sejujurnya] Masih ada ketidakrelaan [dalam hati]
Begitu egonya kamikan?!
Ampuni😢[kami ya Allah]

[Doa kami untuk kalian] Tumbuh kembanglah dengan iman 
Meski kami belum mampu bekali 
Ilmu

[ Walau kami tak mengetahui] Entah siapa yang akan lebih dulu [kami atau kalian yang berpulang]
[Namun kita senantiasa berharap] Semoga kita selalu ada dalam kesiapan
Meski [ kita sadar] jauh dari kriteria penghamba-Nya
Meski raga tak layak
Selalu yang diminta


[Kematian terindah, kami dan kalian] HUSNUL KHATIMAH
Aamiin Ya Robb.....

==========

Akhir kalam

Sebaiknya kita memahami ayat berikut:


ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS Al kahfi: 46).

Yakni harta dan anak-anak yang digunakan untuk perhiasan di dunia yang tidak dijadikan untuk meraih keridhaan Allah, bukan yang dimanfaatkan untuk mendapat kehidupan akhirat.

Jalan terbaik adalah menjadikan anak sebagai investasi amal solih di dunia, dan pembawa diri mereka dan orang tua ke syurga.

Harap kita, semoga keluarga Kami, keluarga Bu Nina, dan keluarga pembaca setia ukhtinews.com, bisa mewujudkan kalimat " sehidup sesurga".

Semoga kita istiqomah!



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel