Jika Istri Sibuk Bekerja di Rumah, Bagaimana Sikap Suami?


Dalam mengurusi anak, banyak ibu yang mengalami kerepotan yang luar biasa untuk memenuhi semua hak anak-anaknya, dan juga kesulitan di sana-sini. Seorang ibu bisa saja memasak, menjalankan mesin cuci, mencuci piring, memandikan si sulung sambil menggendong adik bayi yang baru berumur 6 bulan, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

“Umi..mau makan disuapin sama Umi!”

“Umi..mau belajarnya sama umi!”

“Umi, mau ngerjain tugas PR nya mau sama Umi!”

“Umi, mau bobo digendong sama Umi!”


Anak-anak berebut uminya. Saat itu yang kepikiran oleh seorang istri adalah minta bantuan suaminya. Ini cukup efektif kalau suaminya biasa membantu pekerjaan istrinya. Jika tidak, maka semua kerepotan akan bertumpu kepada istrinya.

Bila semua urusan ri’ayah anak-anak hanya mengandalkan ibu, sementara sang ayah sibuk bekerja, bahkan persiapan ke tempat kerja harus dibantu juga sama sang ibu, maka kesuksesan menghadapi itu semua tergantung pada ketenangan ibu, walau sibuk tapi pikiran dan hati tenang. Namun jika seorang ibu tak kuat menanggung kerepotan tersebut, akhirnya muncul sebuah penyakit, stress.

Jika, istri sibuk dengan pengurusan anak dan rumah, dan suami sibuk dengan kerjanya, sedikit sekali bersentuhan dengan urusan rumah tangga, bagaimana seharusnya sikap suami?

Sepertinya kisah berikut bisa menggambarkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Kisah ini pernah viral di media sosial. Kita baca dengan seksama.

Suatu pagi, Adam pergi ke rumah ibunya, dan mengambil makanan. 

Ibu : Adam, kenapa kamu makan di sini ? istrimu gak masak?
Adam : masak
Ibu : lalu ?
Adam : biarlah, aku mau maakn di sini ,malas aku makan di rumah
Ibu : kenapa? kamu ada masalah dengan istrimu?
Adam : Iya bu .. dia seharian di rumah gak ngapa-ngapain, sementara aku yang capek pulang dari kantor tapi dia ngeluh capek. 
Ibu : memang dia selalu ngeluh ?
Adam : gak sih buu akhir-akhir ini aja .. tapi kan dia gak aku suruh kerja di luar, cuma di rumah aja, jagain anak ,,

Kemudian si ibu menelpon istri Adam dan kembali ke meja makan menemui Adam yang sedang makan
Adam : ibu sudah memarahinya?
Ibu : iyaa ..,

Keesokan harinya Adam pulang sore ...

Dia melihat anaknya masih memakai baju tidur sambil main di lumpur depan rumah, yang satu tiduran di lumpur dan yang 1 lagi hampir aja tercebur ke Got di samping rumah. 

Ia lalu membawa anaknya masuk, sesampainya di rumah dia melihat banyak sekali kotoran ayam berserakan di dalam rumah. 

Belum lagi rumah dan isi lemari sudah habis berserakan di bongkar anaknya tadi. Kaset-kaset berserakan di lantai, bedak sudah bercampur dengan pasir di depan ruang TV,clalu ia hendak ke kamar mandi memandikan anaknya, sampai di kamar mandi dia melihat air sudah membanjiri lantai sabun dan sikat gigi semua berserakan isi kulkas sudah bercampur dengan rak piring.

Adam makin emosi ketika melihat di tudung tidak ada apa-apa,  tidak ada nasi atau yang lain yang bisa di makan. 

Bahkan Piring bekas kemaren masih berserakan di meja makan, susu anak pun sudah habis berserakan .. baju pun masih menumpul di kamar mandi,, rumah seperti kapal pecah.

Lalu dia ke kamar dan mendapati istri nya sedang berbaring sambil dengerin musik pake hendset dan ngemil sembari berbalas chat di sosial media melalu HP-nya ...

Amarah Adam memuncak ...

Dia membawa kedua anaknya ke rumah ibunya hendak memberitahukan perilaku istrinya itu ,,,
Ketika sampai dirumah, ibunya menyambutnya dengan senyuman, namun Adam sudah penuh dengan amarah.

Saat Adam ingin memulai berbicara, ibunya lalu berkata ,,,

" Iya nak,,, ibu sudah tau,,, ibu yang menyuruh dia untuk membiarkan semuanya berantakan,, ibu yang menyuruh dia untuk diam tanpa mengerjakan apa-apa.Tidak memasak, tidak menyapu, tidak menyuci pakaian , tidak mencuci piring, tidak menjaga anakmu, tidak mengurus rumah.

Ibu menyuruhnya agar diam saja tanpa melakukan apa pun,,

Lalu ... bagaimana menurutmu???

Apakah ada yang mengurus anakmu jika istrimu hanya diam?
Apa ada yang memasak makanan untukmu jika istrimu hanya diam?
Apa ada yang mengurus pakaianmu dan anak-anakmu jika istrimu hanya diam?
Apa ada yang mengurus rumahmu jika istrimu hanya diam?
Apa ada yang menjaga anakmu untuk tidak membongkar semua isi lemari? untuk tidak membongkar isi kulkas? untuk tidak keluar rumah dan main di lumpur? menjaga mereka agar tidak masuk ke got?

Agar mereka tidak menabur bedak di lantai , membawa pasir masuk ke rumah, mencoret-coret dinding dan lain sebagainya?

Apa ada yang mengurus itu semua jika istrimu hanya diam di rumah ???

Jika kau bisa memilih, apa kau mau menjadi seorang istri yang hanya "diam" di rumah???

Ibu rasa, istrimu juga bisa cari duit pergi ke kantor, bekerja dan pulang sore, tapi apa kamu bisa "diam" di rumah seperti istrimu yang kau anggap hanya diam drumah?

Jangankan 24 jam mengurus anak, 10 menit aja disuruh nemenin anak maen bentar kamu gak betah karena anakmu bandel, kamu capek kejar sana kejar sini,,

Lalu ??? apa kamu masih menganggap istrimu itu hanya diam di rumah ??

Apa istrimu tidak pantas untuk mengeluh capek walau hanya sekali saja ??

Apa hanya kau yang lelah?? "

Dan apa sekarang kamu mau bertanya kenapa istrimu sudah tidak secantik dulu??

Apa kamu mau bertanya juga kenapa payudara istrimu kendor?

Apa kamu mau bertanya juga kenapa istrimu gak pernah dandan??

Kenapa istrimu gak secantik wanita-wanita di luar sana???


Biar ibu kasih tau..

Jangan pernah kau bandingkan kecantikan istrimu dengan wanita muda di luar sana,. karena istrimu sudah mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk mengabdi padamu

Jangan pernah bandingkan payudara istrimu dengan payudara wanita muda di luar sana yang masih kencang tegak menantang,,

Karena istrimu rela bentuk badannya berubah demi supaya anak anakmu mendapatkan ASI yang manfaatnya tidak bisa kau beli dengan Uang sebanyak apa pun. 

Jangan pernah kau bandingkan istrimu dengan wanita muda di luar sana yang terawat,, karena istrimu sudah menumpahkan segala waktunya untuk merawat anak-anakmu dan mengurus rumah tanggamu ....jangankan ke salon, pake lipstik aja boro-boro, harga lipstik mahal ,, cukup untuk beli susu anak ..

Pas mau dandan anakmu menjerit karena jatuh dari atas meja, entah apa yang dilakukan anakmu di atas meja, semua di panjatnya ,, lemari, kulkas, dll

Kau pikir istrimu sempat bergaya ?? dan bagaimana dengan kamu ??

Apa kamu pernah berinisiatif menjaga anakmu sebentar agar istrimu bisa ke salon melakukan perawatan ?

Atau apa kamu mau sekedar membantunya menjemurkan kain saat pinggangnya sudah hampir patah Abis nyuci segerobak ??

Dan ... apa pernah kamu tanya dia udah makan ato belum ? dia capek perlu dipijit ato tidak ??

Hanya dia yang bertanya seperti itu padamu ,,, walau pun dia ingin sekali kau tanya demikian. 

Adam tertegun,, terdiam sambil melihat kedua anaknya yang dalam waktu sebentar sudah berhasil membuat rumah nenek mereka menjadi lapangan bola yang semua benda berjatuhan terkena tendangan bola, karena tidak ada yg mengawasi selama Adam dan ibu nya berbicara

Dia baru sadar.. bahwa jerih payah seorang istri tak bisa di bayar dengan apapun,, perjuangan seorang istri tak tergantikan oleh apapun,, tak ada yg mampu se tegar dan sehebat seorg istri ...

Air mata nya Hampir menetes jika teringat saat dia plg kantor, dia membangunkan istri nya yg baru terlelap utk membuatkan secangkir teh ,, walopun mgkn istri nya lelah dan mengantuk, dia tetap bangun dgn ceria dan membuat kan teh utk suami nya yg tidak tau kelelahan nya ,..

Adam ingin kembali ke rumah utk meminta maaf kepada istri nya, dan saat dia membuka pintu, dia melihat istri nya sudah ada di depan pintu dan langsung memeluk nya.. istri nya juga menangis...

"Maafkan aku sayang ,,, " kata Adam sambil menangis,,

Ibrah dari Cerita

Jika kita membaca dengan seksama penggalan dialog antara anak dengan ibunya, kita bisa menyimpulkan bahwa:
  1. Pekerjaan seorang istri mengurus anak dan rumah, adalah sebuah pekerjaan yang berat, yang jika tidak diapresiasi, tidak dihargai, juga tidak dibantu sang suami, maka itu akan menjadi bumerang bagi kelangsungan rumah tangga
  2. Jika ada perselisihan antara anak dengan menantu, peran mertua adalah menengahi dengan seadil-adilnya, menasehati dengan sebaik-baiknya,  bukan justru memanas-manasi.
Demikian sahabat, sebuah artikel sederhana yang semoga saja lebih menguatkan jalinan keluarga, memupuk saling pengertian, dan bahu-membahu dalam mengurus dan mengelola rumah tangga.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel