Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang Ibunda, antara Kebahagiaan dan Penyesalan

7 Januari 2020 adalah hari yang akan terus terkenang sepanjang masa bagi kami. Hari itu merupakan hari terakhir kebersamaan kami dengan ibunda tercinta, karena Allah penggenggam setiap jiwa, telah memanggil beliau untuk kembali kepada-Nya.

Isak tangis keluarga menyertai kepergiannya, teriring doa khusuk yang dipanjatkan kepada Allah SWT, agar beliau dikaruniakan ketenangan dan kebahagiaan di alam kubur, agar alam kuburnya menjadi taman di antara taman syurga.

Selaksa lantunan doa hingga kini terus dipanjatkan ke hadirat-Nya, agar beliau tetap beroleh kebahagiaan dan diampuni segala dosanya.


Mengenang kebaikan Ibunda

Teringat ketika kami masih kecil, tanpa sentuhan kasih sayang ayahanda yang berada jauh dari kami. Curahan kasih dan sayang didapatkan dari kakek, nenek, dan tentu ibunda. Kakek hanyalah pensiunan pegawai rendahan di lembaga pendidikan. Untuk menyambung kehidupan, kakek berdagang bajigur ( sejenis minuman jahe yang khas ala Sunda) dan mengelola ladang.

Ibunda bekerja menjadi buruh serabutan. Sering beliau bersama ibu-ibu yang lain pergi pagi buta untuk "kuli" memanen padi di daerah Mande (sebelum tergenang PLTA Cirata), yang berjarak 20 km dari rumah kami, ditempuh dengan jalan kaki. Biasanya mereka pulang sehabis ashar. Ini dijalani setiap hari selama musim panen.

Daerah Mande dulu merupakan sentra penghasil beras, sekaligus jantung perekonomian.

Jika tidak musim panen, beliau bekerja menjadi buruh perkebunan kakao yang berada dekat dengan rumah kami, dengan gaji bulanan sebesar Rp 10 ribu ( sekitar rentang tahun 1989-1992).

Penghasilan ibunda yang tidak seberapa, dipergunakan untuk membiayai kehidupan kami (3 bersaudara). Sedangkan biaya pendidikan sebagian dari kakek.

Hari berganti hari, tahun berubah. Anak-anak beliau, saya di antaranya memiliki garis kehidupan masing-masing, bergelut dengan kesibukan masing-masing. Namun hubungan tetap terjalin dengan sesekali ibunda menginap di rumah saya, selebihnya di rumah beliau yang berdekatan dengan kakak dan adik.

Di usianya menjelang 64 tahun, penyakit menggerogoti kehidupan beliau. Sering bolak-balik ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Klimaksnya ketika beliau dirawat di Ruang Kenanga RSUD Sayang Cianjur selama 10 hari (baca: https://www.abufadli.com/2019/12/sebuah-cerita-dari-ruang-kenanga-rsud.html). Kondisinya makin kritis ketika bagian pinggang ke bawah, kaku, tidak bisa digerakkan. Setelah 10 hari dirawat, pihak rumah sakit mengizinkan ibunda untuk pulang, dan dirawat di rumah.

20 hari di rumah, kondisi beliau makin tak membaik, dan akhirnya pada tanggal 7 Januari 2020, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillaahi wa inna ilahi raaji'uun.

Antara kebahagiaan dan Penyesalan

Kami merasa berbahagia, karena bisa merawat ibunda selama beliau sakit, baik ketika di rumah sakit maupun ketika di rumah, tentu dengan segala kekurangannya. Di saat-saat terakhir, kami masih bisa dekat, berdoa bersama, dan sesekali "ngobrol" dengan beliau.

Di hari-hari ini, timbul penyesalan. Betapa pengabdian kami tak seberapa dibanding pengorbanan ibunda mengurus kami. Betapa masih sering terlontar ungkapan kata yang mungkin kurang berkenan di hati beliau. Betapa menyakitkan sikap dan tingkah laku kami ketika kami berinteraksi dengan beliau.

Maka, sebait doa senantiasa kami lantunkan :
Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi ibunda kami tercinta. Aamiin.
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, Penikmat Sastra, mentor kajian Islam remaja, selebihnya hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Mengenang Ibunda, antara Kebahagiaan dan Penyesalan "